Sensation of car park – 1

Hai semua! Aku new challenger nih, ingin juga ikutan kirim cerita-cerita pribadiku. Say hi, buat seluruh pembaca, “Let’s Taste The New Sensation!” Langsung saja yaa!

Ini ceritaku tahun 1998 kemarin tanggalnya lupa, umurku saat itu 18 tahun tapi aku sudah semester I di kuliahan. Introduce my self, nama Iyan, 179cm/68kg, Sunda-Jepang, aku anak band yang lumayan punya jam terbang di cafe-cafe atau Nite Club (yang suka keluyuran ke cafe/nite club pasti tahu bandku deh) di kota ‘S’ sampai sekarang.

Waktu itu di ‘B’ (salah satu nama pub di kotaku) setelah menyelesaikan session I di stage, aku dikenalkan dengan partner vocalku yang cewek (aku vocalist di band) dengan temannya yang aku tahu namanya itu Lala. Ini cewek cakeep banget, kulit sama tangannya halus-putih bersih, wajahnya imut, sedikit tembem di pipi (tambah imuut.. ‘kan?) dan juga lumayan tinggi untuk ukuran cewek. Dengan perkenalan itu aku bisa tahu kalau dia seorang model di salah satu Sekolah Model kenamaan di kota ‘S’, masih kelas 3 SMP tapi sumpah deh bodynya bongsor banget lagian juga bodynya tidak kalah sama cewek-cewek kuliahan (168cm/49kg, langsing ‘kan?).

Nothing special to tell diperkenalan itu seperti kenalan biasa saja tapi aku sempat tawarkan dia makan bareng dengan teman-teman yang lain setelah session II selesai, pertama dia menolak tapi bukan Iyan dong kalau tidak bisa merayu cewek. Waktu on-stage di session II aku menyanyikan She’s The One-nya Robbie Williams (meski aku lebih suka menyanyikan lagu-lagu Hip Metal, tapi yah mana romantis kalau aku menyanyikan Nookie-nya Limp Bizkit betul tidak?) special buat dia yang hanya senyum-senyum ke aku.

Setelah session II selesai kami makan bersama ramai-ramai. “Wuiihh band kamu cool juga yah Yan,” Lala memuji. “Ah nggak kok La, biasa saja, audiencesnya saja yang asyik dan lagian juga karena vocalistnya yang neh.. neh..” sambil kutepuk dadaku. Langsung deh semua pada menimpuki aku, teman-teman yang lain juga. Sudah deh tidak ada apa-apa lagi yang asik buat diceritakan cuma aku bisa tukar-tukaran nomor telepon saja sama Lala.

Keesokan harinya jam 12.00 ceritanya lagi asyik-asiknya nonton VCD concert band favoritku Red Hot Chilli Peppers, eitz.. telepon di kamarku berbunyi,
“Hallo Iyan ada?” suara di seberang yang ternyata cewek.
“Aku sendiri, siapa?” tanyaku.
“Lala nih Yan.. Lala yang kemaren malem di ‘B’, inget?”
“Oh iyaa..! waduuh sorry La.. keduluan ditelphone deh, ada apa La kangen yah ama Iyan?” aku ngomong sekenanya ke Lala.
“Kangen ama nenek kamu! Iih kamu deh Yan dari kemaren becanda mulu tapi Lala seneng kok ama joke kamu yang level 7 itu (busyet main game kali). Yan, sorry yaa.. Lala minta tolong neh.. bisa nggak jemput Lala ke ‘N’ (nama sekolah modelnya Lala), bisa kan Yan? please..”
“Duuaarr” seperti disambar kereta Argo Wilis deh dengar Lala minta tolong aku seperti itu.
“Nah.. emang kamu nggak ada yang jemput La?” tanyaku ke Lala.
“Itu dia Yan tadi sudah telepon rumah tapi orang rumah nggak ada, terus mau bareng teman mereka sekarang sudah pada mau berangkat show di Graha. Aku nggak ikut soalnya besok mau ada ujian olahraga, mana pagi-pagi banget, tadi aku sudah minta ijin tentor kok,” Lala kasih alasannya.
“Oke La, give me 15 minutes to get you.”

Aku ini yang lagi bicara 20 Menit yang lalu aku dan Lala sudah ada di dalam Estillo hitamku.
“La makan dulu yuk, Iyan tadi belum sempat makan nih,” aku tawarkan dia untuk makan.
“Iya yuk, Lala sendiri juga lagi laper nih Yan, ke ‘TP’ saja yuk (salah satu plaza di kota ‘S’-ku),” Lala terima tawaranku.

Setelah taruh dari Estillo di pelataran parkir di top building aku dan Lala masuk di salah satu restoran untuk makan siang. Setelah makan kami sepakatan nonton, soalnya di top building plaza itu kalau mau turun dari restoran melewati bioskop 21. Kita nonton film yang booming waktu itu ‘TITANIC’. Di dalam gedung ternyata sepi sekali yang nonton, habis film itu sudah lama diputar di bioskop-bioskop kotaku, dengan situasi seperti ini kami bisa seenaknya saja pilih tempat duduk. Mulai deh hawa AC yang dingin terasa, dengan jacketku aku tutupi tubuh mungilnya Lala yang cuma pakai kaos ketat D&G tipis dan celana capri saja. Ternyata tangan kananku tetap saja nangkring di bahunya Lala sambil yang satunya coba menggenggam tangan kirinya (dia diam saja tuh).

Setelah film habis Lala masih diam saja sampai aku bukakan pintu mobilku buat dia, “La.. maapin Iyan yaa?” aku mulai ngomong. “Yan.. Lala pengen kamu peluk Lala kayak tadi Yan,” kaget aku dengan jawabannya Lala. “Hmmpp.. nngghhjj..” Lala langsung peluk aku dengan kepala nyandar di dadaku. Bukan Iyan namanya kalau mendiamkan cewek dengan posisi tanggung kayak gitu, kuangkat dagunya pakai tangan kanan terus aku mulai cium bibir Lala, ternyata itu bibir tidak reaksi apa-apa. Waahh masih perawan nih bibir pikirku. “La kamu belum pernah French Kiss?” kulepaskan ciumanku. “First time I done it with you barusan Yan,” busyet nih cewek biar masih SMP Englishnya lumayan juga. Bangga juga dengar dia mengaku kalau aku yang pertama cium bibir dia. “Lala buka bibir sedikit saja yah, terus entar Lala ikutin Iyan yah,” langsung kulumat lagi bibirnya Lala.

Ternyata ini anak bisa juga learning by doing. Lala mulai buka sedikit bibirnya (kalau lebar mah bisa jadi tidak nafsuin deh) lidahku mulai masuk ke rongga mulutnya mencari-cari lidahnya. Dia pun mengikuti sedotanku waktu lidah kami saling ketemu. Terdengar bunyi-bunyian kecil dari kissingku dengan Lala. “Diinn.. Diinn!” Shit! ada mobil mau lewat nih, terpaksa deh kami lepaskan pelukan dan ciuman.

Setelah mobil sialan itu lewat aku dan Lala jadi tertawa bersama, gila ternyata Lala itu giginya putih bersih dan juga nafasnya segeerr banget waktu kissing tadi, aku langsung tubruk tubuhnya meluk dia sambil melumat bibirnya lagi. Saking cepatnya doronganku, Lala sampai kepentok pintu Escudo yang parkir di sebelah kiri mobilku. Lala tidak bisa ngomong apa-apa lagi kecuali kepalanya yang mendongak ke atas sambil megap-megap saat lidahku mengusap-usap rongga atas dalam mulutnya. Tangan kananku tetap pegangi dagunya dan satunya mengusap-usap punggung Lala. Si ‘kecil’ pun mulai kedut-kedut saat dadaku bergeseran dengan payudaranya Lala. Sementara si kecil pun bergeseran dengan si ‘sempit’nya Lala yang walaupun hanya di dalam celana capri tipisnya itu tetap saja bisa bikin si kecilku berubah jadi si ‘bandot’. Dan semakin bikin si kecilku menggeliat saat Lala secara tidak sadar ikut goyang-goyang merasakan gesekan si kecil.
“La, Iyan boleh pegang La?”
Sebelum Lala bilang apa-apa kulumat lagi bibirnya sambil tangan kiriku pegangi pinggangnya dan tangan kananku mulai ke payudaranya, kuusap halus, kuelus-elus halus, remas halus, pokoknya aku mau bikin yang halus-halus deh moment itu. “Heghh! sakit Yaan!” Lala mengaduh saat aku pijat payudaranya pas di tengah (baca: puting). Gila ternyata masih perawan juga nih payudara belum pernah kesentuh sama sekali (aku kaget karena selama ini kupikir anak model tuh tidak selugu ini).

Dengan nafas yang sudah kencang kuangkat pelan kaos ketat D&G-nya ke atas, dia menurut saja meski dengan ragu-ragu akhirnya lolos juga kaos ketat kecil itu. Kulempar beserta jacket dan kaosku ke belakang ke dalam mobilku yang pintunya memang masih terbuka. Terlihat kedua payudara 34C-nya yang.. “Huaa!” menonjol ke depan nantangi aku. Benar-benar menonjol banget deh sampai mataku itu mendelik melihat good view milik Lala. Kembali kulumat bibirnya, tanganku pun dengan lincah mulai mencari tali branya di belakang dan sekali tarik langsung mencuat bebas deh payudara yang dari tadi tersiksa sekali terbungkus bra sempitnya itu. Aku hirup dalam-dalam bau branya terus kugantungkan saja ke kaca spion Escudo sebelah. Benar juga dugaanku payudara yang mulus dan putih bersihnya memang menonjol sekali ke depan, putingnya yang merah itu seperti bibir yang lagi manyun. Lala sendiri kelihatan malu-malu waktu aku bengong lihati keadaan payudaranya yang kemerah-merahan itu.

Aku angkat pinggang Lala dan kutahan dengan pinggangku yang membelah kedua pangkal pahanya. Dengan sigap langsung aku TUMIS (jilaT, lUMat, ISap) puting payudara impianku itu dan aku pun tidak mendiamkan tanganku, kubiarkan tangan kananku melingkar di pinggangnya tapi si tangan kiri ini mulai mainkan payudara kiri Lala, kuremas dan kuelus putingnya yang sudah berdiri keras sebesar colokan lampu itu sambil sesekali kujentik-jentikin lembut dan kupilin dengan lembut. Lidahku pun tidak kalah lincahnya dengan tangan kiriku, dengan cueknya kujilati puting kanannya yang sudah basah itu.
“Hghh.. gghaappff.. Yaan.. geellii.. Yaann!”
Matanya merem, kadang melotot, kadang menyipit dan Lala pun menggelinjang tidak karuan seperti baru pertama kali merasakan rasa geli yang amat sangat nikmat (memang baru pertama kali) menjalari seluruh saraf-saraf sensitive di tubuhnya itu. Kukombinasikan hisapan serta ciuman lidah dan bibirku berulang-ulang dari puting, naik ke leher, langsung ke bibirnya dengan cepat sehingga Lala pun sempat tersedak kaget saat kulumat bibirnya lalu kembali lagi turun ke leher, kujilati telinganya, dan kembali menghisapi putingnya. Dengan kombinasi ini Lala pun tidak bisa berpikir darimana serangan bibir dengan lidahku ini, dia hanya bisa menggelinjang dan keringatan.
“Yaann.. La.. ll.. laa pipiss Yaann..!”
Habis bilang itu tubuh Lala pun menegang, kepalaku dibenamkan ke payudara montok indahnya itu sambil memelukku erat-erat.
“Aaagghh.. Yyaann..!” tubuh Lala pun menyentak pinggangku. Gila sudah orgasme nih anak.

Kuangkat tubuh Lala, kugendong lalu kududukan di kap mesin Escudo yang ada di depan. Dia pun terlentang tiduran di kap mesin Escudo samping mobilku itu. Kuangkat kakinya sampai 90 derajat. Pelan-pelan kuelus dan kuurut pahanya sampai ke pergelangan kaki agar dia rileks untuk menerima foreplay selanjutnya. Setelah sekian lama nafas Lala mulai teratur aku mulai peloroti celana capri tipisnya.
“Yaann.. Lala mau kamu apain Yan?” Lala merintih lirih.
“Maapin Iyan yaa.. La,” aku berhenti melorotin celana caprinya yang sudah sampai pergelangan kaki itu.
Terlihat olehku celana dalam yang sudah basah penuh dengan bercak orgasme pertamanya menggelembung pas di liangnya yang tidak terlalu besar tapi membuat aku tambah nafsu. Pasti ini lubang kecil dan juga sempit banget, pikirku.
“Yaan.. Lala mau bilang kalau Lala tuh suka sama kamu Yaan..” sambil memelas Lala ngeluarin kata-kata sakti itu.
“Lala tidak suka yaah Iyan kayak gini? Soalnya Iyan juga sayaang banget sama Lala,” aku coba tenangi dia.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s