Sensation of car park – 2

Setelah tenang, kulanjutkan melepas celana caprinya, kujatuhkan ke bawah di depan Escudo malang itu. “La, may I?” gini-gini aku perlu minta ijin juga dong mau lihat the most private stuff-nya Lala. Lala cuma mengangguk lemah dan tidak berapa lama lolos sudah celana dalam mungil itu dari yang punyanya (iya kalau punya Lala, nah kalau punya emaknya?). It’s so pinky! liang itu sudah sangat becek sampai belepotan di pangkal pahanya. Kumasukan kepalaku ke dalam pangkal paha Lala, seperti tahu (apa karena sudah lemas kali yaa?) posisi yang nyaman buat dia, kakinya yang jenjang ditekuk mengikuti bentuk punggungku. Tanganku? tanganku sudah pasti deh melayap mengelus-elus, sambil meremas-remas pahanya terus ke atas meraih puting payudara indah Lala lagi. Kepalaku makin masuk sampai bibirku bersentuhan dengan bibir liangnya Lala. Kulumat bibir sensitive itu, “Hhmm.. it’s so good taste,” kujilati semua yang becek-becek di liang maupun di selangkangannya Lala (bisa dibayangkan bagaimana gelinya si Lala?) Lala cuma bisa menggelinjang menahan kenikmatan saat aku mulai mainkan jilatanku ke dalam si sempitnya, kugigit kecil klitorisnya yang sudah menyembul tanpa malu-malu.

“Aaahhgg.. Yaann.. brenti Yaann.. brreenttii Yaann..!” Lala mulai teriak-teriak tidak karuan tapi aku tidak berhenti sampai di situ karena aku yakin dia teriak seperti itu soalnya dia merasakan kenikmatan baru yang lebih ramai rasanya, (hihihi kayak iklan.. tapi permen rasa ‘si sempit’ kayaknya asyiik juga tuh diproduksi). “Sspphh.. slluurrph.. Pok!” aku mulai menghisap-hisap liangnya sambil kusedot lalu kulepaskan sedotanku dengan cepat. Lala menegang lagi menyambut orgasme yang kedua kalinya. Aku biarkan Lala merasakan sensasi orgasme keduanya dengan mulai melepaskan celana jeans Hip-hop Airwalk-ku, kukeluarkan si kecil dari dalamanku tapi aku tidak lepaskan dalamanku cuma aku kaitkan saja di bawah biji buahku.

Aku naik ke bibirnya, kulumat untuk sekian lamanya sebelum The Real Game-nya kumulai sambil menunggu Lala terangsang lagi, kelihatan dia menjepit pangkal pahanya dengan si kecilku yang sudah bersentuhan dengan bibir kewanitaannya. LALA IS BACK! Mulai terangsang lagi deh nih anak. Dia sudah tidak bisa lagi mengendalikan tingkahnya sampai-sampai itu kap mesin Escudo sampai sedikit penyok kena tubuhnya Lala. Setelah tidak bisa menahan si kecil-bandotku yang mulai mengacung-ngacung ke bibir bawahnya, aku pun mulai membimbing anak TK itu (si kecilku) masuk ke liang yang sudah empot-empotan dari tadi. “Yaann.. jangan Yaann.. Lallaa.. belom pernah ginian,” sambil geleng-geleng Lala ngeri juga melihat si kecilku (syukur deh aku dikaruniai ukuran kayak gini, size-nya secret saja deeh, biar penasaran) yang sudah siap memasuki gerbang kenikmatannya. “Lala tahan dikit yaa.. agak sakit La, Iyan masukin pelan-pelan yaa sayang,” sambil merayu kulumat bibirnya lagi.

Setengah kepala si kecilku sudah mulai masuk liang Lala. “Hgh.. Aaah! Yaann sakit Yaan.. ampun Yaan.. oohh!” Lala menjerit-jerit menahan si kecil yang mulai memasuki kewanitaannya. Suara Lala pun langsung bergema di sekitar pelataran parkir yang untung banget waktu itu sepi.

Tingkah dan teriakan Lala pun semakin brutal menahan sakit (tapi nikmat) lewat liang kewanitaannya. Kutahan sebentar laju kemaluanku tapi semakin enak juga aku merasakan empotan si sempit Lala yang berdenyut-denyut akibat reaksi tubuhnya yang terus meronta-ronta tertahan. Akibat tubuh yang meronta-ronta itu, tembus juga selaput dara Lala dengan sendirinya. Lala pun langsung menggigit bahuku dan menancapkan kuku-kukunya di punggungku sambil mempererat pelukannya ke tubuhku. “Aaahh..! Ough..!” barengan aku dan Lala menjerit menahan nikmat (sedikit sakit mungkin bagi Lala) yang ditimbulkan oleh masuknya si kecil ke dalam si sempitnya Lala.

Mulai kuputar-putar pelan setengah batang si kecil di dalam si sempit Lala, pelan-pelan biar si sempit terbiasa dulu, tapi kenyataannya Lala masih saja kelojotan menggelinjang setelah orgasme keduanya a few minutes ago. Setelah sekian lama menerima manufer si kecil akhirnya si sempit bisa juga beradaptasi.
“Oohh.. oohh.. Iyyaann.. yaa.. terus Sayaang.. masukin lagi Sayaang.. Lala piipiss lagi sayang..!” permohonan dia pun kukabulkan dengan lebih melesakkan si kecilku lebih dalam.
“Gilaa..!” susah banget untuk masuk lebih dalam.
(“Boss.. susah Boss,” si kecilku laporan ke bossnya.)
“Yaann..! Lalaa piippiiss.. Yaann! Ugh!” Lala mengalami orgasme yang lupa ke berapa kalinya padahal si kecil belum sepenuhnya masuk.

Merasa dapat kesempatan, kulesakkan si kecil lebih dalam lagi dibantu dengan cairan orgasmenya tersebut dan “Walaahh..! At last!”, “Boss siipp boss!” Si kecilku kasih laporan lagi. Aku mulai putar-putar lagi si kecilku di dasar liang kemaluan Lala sesekali kuganti gerakan memutarku dengan memompa pelan. Setelah Lala mulai aah, uuhh, ahh, uuhh, lagi aku mengganti putaranku menjadi pompaan masuk-tarik masuk-tarik sedikit demi sedikit sampai kecepatan tercepat yang aku bisa (tapi tidak brutal lho) biar dia bisa merasakan orgasme yang sebenarnya. Tubuh Lala pun menggelepar-gelepar (sampai bunyi kedombrangan itu kap mesin Escudo) sambil melingkarkan kaki jenjangnya yang dialasi sepatu sendal bertali dengan hak 5 cm di pinggangku, kulumat kembali bibirnya yang megap-megap merasakan kenikmatan dari bawah tubuhnya (baca: si sempit). Posisiku setengah berdiri menungging ke depan menindih lekuk tubuh Lala yang telentang ke bawah mengikuti bentuk kap mesin Escudo yang sudah lumayan penyok (artistikkan?).

Belum sempat merasakan sisa-sisa orgasmenya sampai tuntas (dia orgasme lagi tuh kayaknya) kembali aku menjilati pentilnya bergantian kiri-kanan dan sesekali kugigit lembut ujungnya. Memang deh cewek yang masih perawan itu sensitive sekali (yah puting, yah orgasmenya), kembali Lala menegangkan otot suaranya, “Yyaann.. aahh gila kamu sayaang.. kamu siksa Lala sampe kayak gini.. uuhh.. hh!” Lala mendesah keenakan sambil kuteruskan pompaanku di dalam liangnya. Si kecilku pun merasa sudah kesenangan deh. “What the hell?” kami dengar suara ribut orang-orang yang lagi jalan menuju ke arah sekitar pelataran parkir mobilku.

Cepat langsung kuangkat tubuh Lala, sambil si kecil masih dalam liangnya kugendong dia kembali ke arah first time we have some hug and kissing tadi. Aku himpit tubuhnya ke pintu Escudo malang itu lagi (poor Escudo, thanks to Suzuki yang membuat multi function produknya buatku dan Lala), body Escudo ‘kan lumayan tinggi jadi aku dan Lala bisa berlindung deh. Ternyata mereka pemilik mobil ke dua di samping Toyota Kijang yang berdampingan di sebelah kiri Escudo malang ini. Aku tetap saja menggerakan si kecil di dalam si sempitnya Lala biar saraf kami yang sempat kendor gara-gara orang-orang sialan itu kembali menerima rangsangan yang tadi sudah sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya tetap dalam gendonganku dan seperti tahu critical situation itu Lala pun berusaha menahan teriakannya (dia kan teriaknya kenceng banget) dengan menggigit bahuku kuat-kuat sampai keluar darah segar dari bahuku (bahuku memang masih perawan kali yah) Perih sekali!”

Beruntung deh body Escudo ini tetap kokoh tidak goyang-goyang meski di samping kanannya itu lagi ada orang goyang-goyangan (buat Indomobil hubungi mail saya untuk pembayaran selanjutnya, ini kan sudah termasuk promosi). Tidak berapa lama mereka (orang-orang sialan itu) akhirnya pergi juga dengan mobil sebesar pos kamling itu (maklum mobil mereka itu Pajero keluaran terbaru!) dan sekali lagi kita beruntung sekali mereka tidak melihat celana sama dalaman kami yang ada di depan Escudo).

Aku senyum paling manis ke Lala dan langsung kukulum lagi bibirnya. Edan, lagi-lagi si Lala seperti burung yang lepas dari sangkar saja kembali teriak-teriak keenakan merasakan sodokan si kecil-ku yang makin aku bikin kencangan lagi. “Terruuss sayang.. terussin.. Oohh.. mmppffhfh..!” teriak Lala seperti menantangi kehebatan si kecil-bandotku di dalam sana. Kalian semua coba pada bayangkan deh sensasiku sama Lala, dengan tetap kugendong tubuhnya yang naik turun mengikuti laju si kecil, berpelukan erat kadang kami saling melumat bibir, tanganku menahan bongkahan pantat Lala yang tidak bisa diam sambil kuremas pantat mulus dan putih bersih itu. Aku sampai tidak sadar ternyata cawatku sudah tidak ada di kakiku (tidak tahu merosot kemana?). Bunyi liang basah yang bergesekan dengan si kecil diikuti dengan teriakannya yang menggema membuat pelataran parkir itu sudah seperti panggung concert music deh.

“Ooohh.. Lala sayaang.. Iyan sudah tidak kuat lagi nih,” setelah sekian lama aku akan merasakan KABOOM (istilah orgasme si kecilku) pada kemaluanku di dalam sana. Lala semakin mempererat pelukannya dan dengan aktif mengulum bibir dan lidahku, gerakannya pun dipercepat sendiri dengan geliatan-geliatan tubuhnya ke arah belakang.
“Yaann.. La.. laa.. mau pipis juga Yaann..!”
“Aaahh!” setelah kasih tahu aku kalau mau orgasme langsung saja deh keluar itu cairan di dalam liangnya.
Aku merasa si kecil dipijat-pijat oleh si sempit yang lagi menegang di bawah sana karuan saja si kecilku pun tidak bisa tahan lagi! kupercepat sodokanku. “Ooohh.. La.. ll.. laa Iyyan.. Iyaann.. aaggh!” muncrat deh sperma segarku di dalam liang Lala. Lala sempat kaget juga merasakan si kecilku bisa ngeblow seperti si sempitnya (maklumkan perawan sekali dia, ‘ex’ maksudku).

Sekitar 8-9 kali si kecil menegang mengeluarkan sperma di dalamannya si Lala. “Hhh.. hh!” aku dan Lala mendesah lirih merasakan yang kami lakukan barusan. Kugendong Lala yang sudah lemas sekali tubuhnya ke dalam kursi depan mobilku lalu kujilati bibir liangnya bersihkan yang becek-becek nikmat sampai mengkilat sekali. Lala pun sudah tidak bisa kasih reaksi lagi (sudah lemas sekali si Lala). Setelah bersih dari bercak cairan sperma yang bercampur air kenikmatan dan darah perawannya dengan masih malas-malasan aku punguti cawatku, celana capri dan CD-nya Lala yang tergeletak di depan Escudo perkasa tapi malang itu. Sejenak aku pelototi keadaan kap mesin Escudo itu, “Gila! pada penyok neh! cairan dan bercak darah perawan Lala ada juga di atas kap mesinnya (hehe.. sorry yah yang punya Escudo, kali-kali dia baca tulisanku ini dan ingat kapan kap mesin Escudonya itu rusak).”

Aku selimuti jacketku menutupi tubuh Lala yang masih tetap mulus bercampur keringat itu. Setelah aku pakai celana sama kaos di dalam Estilloku. Lala menyandarkan kepalanya ke jendela kaca Estilloku. Waduh nangis ini anak. Aku kecup lembut pipi dan keningnya.
“Maapin Iyan yah La?” aku merasa salah (padahal enggak hehehe..).
“Yaann..? Lala tidak nyesel kok Yan.. Lala sayang ama Iyan, Lala mau Iyan entarnya tidak ninggalin Lala gitu saja,” sambil mengucek-ucek matanya kuusap air mata di pipinya. Suara Lala lirih tapi merdu seperti Long Island yang hangat sekali sampai ke ulu hati. Kukecup lembut lagi keningnya sebelum aku meninggalkan pelataran parkir yang penuh sensasi buatku dan Lala.

Setelah kasih ticket parkir ke petugas jaga akhirnya kami keluar dari TP (aku tahu deh Mas penjaga ticket tadi sempat melotot sampe mau copot matanya melihati paha mulusnya Lala yang lagi sandaran di jendela Estilloku, dibalik jacketku Lala kan sudah tidak pake apa-apa lagi. Dan Mas penjaga tadi mungkin akan tahu deh apa yang sebenarnya terjadi waktu itu kalau dia baca juga tulisanku ini).
“Waduh gawat neh!” setelah aku sama Lala sadar kalau ternyata kami kelupaan sesuatu (apa coba? pembaca juga ikut mikir doong!).
“Yup!” benar juga, bra-nya Lala masih nangkring di kaca spion Escudo yang tadi.
“Nggak papa laah.. itung-itung kenang-kenangan buat Escudo malang itu lhaa.. (gimana yang punya Escudo sudah ingat?) buat hiburan kali yaa..?” aku sama Lala senyum-senyum sampai ketawa lepas deh (meski dipaksakan, kan masih lemes).

Kita jalan sambil pelukan. Aku puterkan She’s The One-nya Robbie Williams (sebenarnya aku muak juga sih sama Robbie Williams, tapi do’iku ini minta diputerkan lagu itu). Sebelum sampai di kompleks rumahnya, Lala minta berhenti di pinggiran jalan kompleks untuk pakai bajunya.
“La yang ini buat Iyan yaa, please..?” aku minta celana dalamannya (itu CD kan penuh noda si ‘sempit’-nya Lala, tidak tahu buat apaan entar?).
“Ihh.. kamu genit deh Yan.. mao buat apaan? entar Lala jangan dipelet yah!”
Ih gemes aku melihat do’iku yang manja banget ini.
“Nih pelet nih.. Wee..” sambil kujulurkan lidahku, mataku juga ikut kiyer-kiyer (pokoknya jelek habis deh tampangku waktu itu).
“Iya deh, tapi besok jemput Lala ke sekolah yah, Lala mao pamerin sayangannya Lala yang ini nih ke temen-temen.. hihihi,” Lala ketawa sambil mengacakan rambutku. Gila! aku mau dijadikan barang pameran deh besok, pikirku.

Ternyata sudah jam setengah sembilan-an waktu kami bedua sampai di rumahnya Lala. Rumahnya tidak besar-besar amat, tapi pengaturan perabotnya itu pas banget deh. “Papa sama Mama belum dateng dari ‘M’ (kota di Jawa Timur yang terkenal dengan buah apelnya) Yan..” Lala keluar ke ruang tamu menemuiku sambil bawa teh hangat. Ada tiga cewek yang cute juga sih ikut di belakang Lala (sumpah aku tidak naksir salah satunya kok, ketiganya mungkin hehe.. soalnya masih cantikan ceweku deh).
“Yan, ini kakaknya Lala terus ini temen-temennya..” Lala mengenali kakak perempuannya lalu gantian dengan teman-teman kakaknya.
“Iyan,” sahutku pendek.
Nama kakak perempuannya Widya terus temannya Puput dan si Firly. Sebelum mereka masuk meninggalkan aku dan Lala sempat juga aku dengar mereka cekikan (hehe.. performanceku memang tidak mengecewakan).

Setelah 10 menit aku pamit pulang. Lala menggandeng tanganku ditarik sampai aku percepat langkahku keluar rumahnya. Dari belakang bongkahan pantatnya yang masih pakai celana capri yang tadi itu melenggok-lenggok yang ternyata tidak ada lipatan celana dalamnya (belum pakai CD nih do’i). Sesampai di teras rumahnya kutarik tangan Lala ke arahku, kupeluk dia sambil kucium bibirnya, tanganku meremas-remas pantatnya yang tadi sempat manyun-manyun ke arahku (nah setelah tadi aku sempat gemes sama lenggokan pantatnya tuh).

Setelah puas peluk dan ciumi dia, aku lari masuk ke dalam Estilloku. Lala kelihatan sewot juga sih aku main tabrak lari seperti itu.
“Lala tidur yaa.. istirahat.. besok katanya mao ada ujian olahraga entar capek.. besok Iyan jemput Lala deh ke sekolah.. Iyan sayang sama Lala,” aku pamitan ke Lala.
“Yan besok habis pulang sekolah Lala minta ajarin nyepong yah Yan.. Lala pengen tahu (Hah?),” di dekat jendela mobilku Lala tersenyum nakal ke arahku yang sudah menyalaakan mesin Estillo. Aku pulang setelah cium bibir Lala sekali lagi dan.. “BBRRMM..!” pulang deh Iyan bersama Estillo kesayangannya. “Hmm.. nyepong? hehehe.. Wait For The Next Sensation!” ancam si kecil-bandotku.

Thanks for all attention untuk tulisanku ini. And wait for the other “Sensation” Sorry kalau kebanyakan ceritanya. Buat Bossnya situs cerita ini tolong kritikannya yaa.. aku ‘kan new challenger. Thanks for everything.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s