The mighty Oedin – 1

Namanya Oedin. Seorang pemuda asal Indonesia. Berdomisili di kota metropolitan Jakarta. Bekerja di sebuah government agency yang terkenal di sana. Aku kurang jelas apa posisi atau tugasnya. Dia tak pernah cerita. Aku hanya tahu penghasilannya cukup untuk membiayai sepuluh istri di Indonesia (akunya), tapi tak cukup untuk membiayai aku seorang (balasku) hahaha. Yah, begitulah salah satu olok-olok yang kulontarkan padanya.

Pertama kali aku melihat Oedin dalam rangka PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS) antar kota-kota di California beberapa tahun silam, saat kami masih berkuliah ria. Ketika itu dia lagi menyelesaikan studi MSBA-nya di salah satu kampus University of California. Dan aku, aku juga kuliah di kampus UC yang lain, beberapa tahun lebih junior darinya.

Dalam pertandingan olahraga yang diadakan setiap tahun itu, aku ikut main bulutangkis, dan Oedin main volleyball. Team-nya menang. Dan ngeenngg..! Aku mulai ngecengin Oedin. Wajahnya yang tampan menarik, tubuhnya yang tinggi tegap serta dagunya yang berbelah di tengah selalu membuat kedua bola mataku berkeliling mencari sosok itu. Dunia ini akan menjadi sempurna kalau saja dia membalas tatapan mataku dan menyimpulkan sebuah senyum untukku. Tapi tentu saja the world is not perfect. Dia tak pernah melirikku. Tak sadar kalau aku exist! Hhh! Bahkan gelar juara bulutangkis pun tak berhasil kuraih. Aku pulang dengan rasa hampa.

Lewat suatu kesengajaan, kulihat Oedin untuk yang kedua kalinya beberapa minggu kemudian. Di sebuah klub. Aku tahu dia akan hadir di sana, maka aku juga ke tempat yang sama dengan tujuan ngeceng si kece. Hey! siapa tahu usahaku kali ini membawa hasil. Tapi, untuk yang kedua kalinya aku dikecewakan. Oedin membawa teman kencan yang membuat hatiku gusar. Seorang bule yang menurutku tidak cantik, plus tubuhnya terlalu berbobot di mataku. Apa gerangan yang dilihat Oedin dalam diri perempuan ini? Seleranya kok rendah sekali. Padahal Oedin pantasnya sama aku (gegege..).

Dari kejauhan kuamati makhluk wanita itu minum sambil bersenda gurau berisik sekali bersama orang-orang berisik lainnya. Dia tidak sungkan-sungkan memberi beberapa pria ciuman dalam kemabukannya. “Fat bitch!” atau “Italian whore!” Sepanjang malam aku mengumpat dalam hati. Mana mungkin aku bisa bersaing dengan perempuan seliar itu? Another night got ruined. Dasar Oedin jelleekk..! Aku tak pernah mencari Oedin lagi. Kupikir itu lebih baik, daripada nantinya aku mempermalukan diri sendiri.

Beberapa tahun kemudian, setelah nyaris hilang bayangan pria bernama Oedin yang dua kali bikinku gondok (argghh!), aku dipertemukan kembali dengannya tanpa kucari jauh-jauh. Saat itu aku di tengah-tengah kesibukanku di depan PC, tiba-tiba sebuah message window Yahoo Messenger muncul di depan mataku menyapaku. Ya, sampai sekarang aku masih tidak mengerti bagaimana seseorang yang namanya tidak tercantum dalam contact list-ku bisa begitu saja melihatku online/offline dan kirim message. Itulah Oedin yang kembali. Tidak! Dia tidak kenal aku. Dia hanya tahu aku adalah teman seorang koleganya yang kebetulan alumnus UC. (Kawanku bekerja di kantornya di Jakarta, yang kuliah di UC adalah aku, bukan sang kawan, ngerti?!).

Kawanku memang pernah bercerita tentang Oedin dan berniat mengenalkan kami. Tapi sebelum itu terjadi, Oedin telah terlebih dahulu “nyolong” nickname Yahoo-ku. Oedin dan aku sering bertemu online/chatting. Tak pernah diawali dengan perkenalan, tak ada basa basi atau pembicaraan hal-hal yang serius, atau apa yang orang bilang curhat, singkatnya kami tidak pernah berkonversasi secara normal. Ibarat anjing dan kucing, kami bertemu lalu saling mencemooh, saling mengejek, bertengkar. Tak pernah akur (welcome to cyber nightmare!). Tak heran kalau setelah berbulan-bulan kami masing-masing tidak mengetahui apa-apa tentang satu sama lain.

Sebetulnya aku ingin mengenal dirinya lebih jauh, tapi begitu kesempatan korek-mengorek itu datang, biasanya kami jadi bertengkar. Bagaimana tidak? Oedin tak pernah mengalah. Setiap pertanyaan selalu aku yang harus jawab dulu. Bahkan dia kadang-kadang menghindar kalau tiba gilirannya untuk menjawab. Wajar saja kalau aku sering ngambek. Mestinya aku tidak menghiraukan Oedin. Apalagi dia adalah seorang self admirer (itu lho, yang kerjanya tiap hari menyanjung diri). Tapi dia justru membuatku penasaran. Aku tak pernah marah lama-lama atau bosan, sebaliknya aku akan mencoba dan mencoba lagi. Bisa jadi kalau dalam sehari aku cuma bicara dua kalimat dengannya “hai Oedin”, “bye Oedin” dan menghilang meninggalkannya bengong, karena aku tak tahan mendiamkannya. Aku tidak tahu apakah dia sudah punya pacar atau belum. Kawanku bilang tak ada yang serius.

Suatu hari, Oedin minta fotoku..! Hehe.. Tentu saja jawabku, “IN-YOUR-DREAM!” Pernah pula aku menelponnya setelah kuperoleh nomor HP-nya lewat perjuangan yang “Almost cost me an arm and a leg”. Dia memang menyadari betapa indahnya suaraku, tapi sayang, dia tetap sama, tak pernah mengalah. Aku menyerah akhirnya. Ingin kubuktikan apakah Oedin dapat menjadi orang yang menyenangkan jika aku yang berinisiatif. I offered to “talk”, not “fight”. Bahkan kukirim fotoku yang sedang tersenyum manis sekali (gara-gara capek dipanggil “si Jelek” setiap kali). Well, seperti yang sudah kuduga, pandangannya terhadapku berubah. Oedin terkesima cukup lama (or maybe he went into shock). Nah, rasain lu, ternyata dia sama saja dengan pria-pria lain. Tapi entah karena pelitnya atau apa, sampai sekarang aku masih tak memiliki fotonya. Dan aku tetap tak berhasil mengorek banyak.

Suatu hari. “Khris, aku jadi ke Amrik bulan depan,” ujarnya.
“Datang ya datang! Terus emang napa? Pokoknya jangan lupa bawa titipanku kalo mau ngajak aku dinner.”
“Kamu jemput di airport ya?”
“Mau bayar aku berapa? Kayaknya lebih murah naik taksi deh!” candaku.
“Jangan gitu doong. Aku kan sengaja mau ketemu kamu.”
Tuh! Gombal itu.. seperti biasa.
“Umm.. umm..” Aku kurang percaya. Temannya masih banyak di sini. Bahkan dia kenal beberapa temanku.
“Nggak janji!” Timbul niat iseng untuk membalasnya.

Aku akan menemuinya di airport, cuma bertemu, bukan menjemput. Toh dia bukan tamu di sini yang harus kuperlakukan istimewa. Yup, aku akan mendatanginya di bandara mengendarai Kawasaki Ninja 250 yang ada di garasiku, jadi tak usah memboncengnya pulang. Hihihi.. motor itu nyaris tak ada tempat buat bonceng-boncengan, aku juga nggak bisa boncen-boncen, lagian.. kopernya mau ditaruh dimana? Sayang.. lulus dari Motorcycle Safety Foundation dan memiliki SIM motor, bukan modal yang cukup untuk keluyuran bawa motor di sini. Untung aku sudah sering latihan mondar mandir naik scooter Aprilia-ku dan punya semua perlengkapannya seperti Arai helmet dengan cap DOT di belakangnya, sarung tangan dan sepatu boot. Tapi sports bike Ninja itu jauh lebih berat dari scooter, maka aku rajin weight training di gym. Aku memang tidak ada potongan seorang biker yang umumnya beringas dan ototnya bertonjolan. Well, semoga saja hari itu hujan tidak turun.

Sebulan kemudian. Dalam penampilan seorang biker, aku bertemu Oedin, menenteng helmet dan jaket kulitku, masih tanpa fotonya. Dia pernah menawarkan, tapi aku menolak.
“Enak aja! Kalau butuh baru nawarin.”
Oedin pun tidak memaksa, bahkan dia masih sempat bilang, “Ya udah, kalo gitu cari cowok yang paling kece aja di lobby.”
Sialan nggak? Tidak susah mencarinya dikalangan orang-orang dari berbagai macam etnis di airport. Sosok orang Indonesia ini cukup familiar. Oedin ternyata sangat rupawan. Oh yes, aku menikmati setiap detik pertemuan kami. Aku berhasil membuat wajah tampannya terkesima sekali lagi and it made my day. Komentarnya sewaktu melihatku, “Woman!?!?!”

Keesokan harinya. Pikiranku sedang melayang-layang ketika telepon di mejaku berdering. Nyaris tak ada yang kuselesaikan pagi itu selain mengkonsumsi Toblerone dan senyum-senyum sendiri melamunkan Oedin yang sejak pertemuan kemarin memberikan getaran hebat di dadaku. Tawanya, gigi putihnya, kata-katanya, badan tegapnya.. semuanya tak pernah lolos dari bayanganku.Kuangkat telepon dan, “Jahat ya kemaren. Tega banget.”
Dasar Oedin! Belum halo sudah protes. Oops, salah! Justru ini dia telepon yang sudah kutunggu-tunggu sejak malam. Sesungguhnya sepuluh menit lagi saja, tanganku sendiri akan otomatis mengangkat gagang telepon dan memutar nomornya.

“Duu.. digituin aja ngambeekk,” balasku geli.
Aku memang keterlaluan. Dan aku bersedia kok minta maaf, kalau perlu.
“Iya iya. Aku ngaku kalah. Udah bisa keluar makan?”
Hmm.. baru jam sebelas. “Aku masih sibuk, Oed!”
Tentu saja sibuk. Wong dari pagi kerjaan belum ada yang beres.
“Kenapa? Mau traktir aku makan?”
“Udah kutunggu di depan gedungmu.”
“Hmm.. miss me already?” tak tahan aku tidak menggodanya.
“Iya tuh. Begitu bangun langsung cari kamu.”
“OK. Kira-kira setengah jam lagi aku keluar.”

Oedin sudah berdiri menunggu di samping mobil sewaannya ketika aku keluar.
Sekali lagi aku menggumam, “Oooh Oedin.. kenapa kau diciptakan Tuhan begitu menawan? Semalam aku bolak balik di ranjang sambil ngitung domba berjam-jam baru bisa tidur.. gara-gara kamu.”
“Benar-benar kejam. Perasaan sayangku yang tulus kau permainkan seperti ini,” omelnya di mobil.
Aku hanya tersenyum mesem. Yeah, it won’t happen again, Darling. Tapi, semua ini kamu yang mulai, ingat?
“We even now?” tanyaku.
“Yes. Yes, we’re even now.” Jawabnya memastikan. Lalu ia bergumam, “.. ain’t no doubt.”

Siang itu kami makan sambil berbincang-bincang diselingi gurauan dan cenda tawa. Mungkin itulah pertama kalinya kami benar-benar ngobrol. Oedin bahkan memilih sebuah meja yang letaknya di pojok, dimana dia duduk menghadapiku, dan TEMBOK. Seluruh perhatiannya diarahkan kepadaku (karena aku jelas lebih enak dipandang daripada tembok). Saat itu aku berpikir, kalau di tempat umum saja dia dapat konsentrasi memusatkan perhatiannya padaku, bagaimana nanti kalau kami hanya berduaan saja di tempat tertutup? Lalu posisi duduknya yang tegap.. whoa.. tentunya dia bukan tergolong orang yang “malas” di ranjang.

Setelah makan.
“Aku ada satu permintaan,” katanya.
“Mm-hmm?”
“Boleh nggak hari ini kau nggak balik lagi ke kantor?”
“Yeah. Sure!” Dengan ringan aku menyetujuinya.
Oedin menolehku tak percaya. Aku pun tertawa lagi. Well, call me crazy, tapi aku memang suka tertawa berada di dekatnya. Dan aku telah jatuh cinta padanya. Dia begitu pintar membuatku tertawa.

“Mo kemana sekarang?” tanyaku di mobil.
Oedin berpikir sebentar, lalu bercetus, “Las Vegas.”
Kali ini aku yang dibuatnya kaget. Mataku membesar. “You’ve got to be kidding me!”
Tapi ekspresi wajahnya mengatakan, “I am not kidding.”
Dengan begonya aku bilang, “Kau dan aku?” Siapa tahu dia ngajak serombongan orang.
“Kenapa? Takut apa? Kamu tuh paling safe berada di sisiku.”
Yee.. emang apa yang ditakuti? Aku cuma memikirkan tentang tugas kantor yang akan terlalai kalau ditinggalkan berhari-hari.
“Let’s go! Hit the road!” sambutku pasti.

Bersambung ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s