Anything for you – 1

Hai, aku mau cerita tentang hubunganku dengan seorang seorang cewek cantik. Kisah ini terjadi di kota XX. Aku bekerja di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di sana.

Kamis malam aku kebetulan pulang dari proyek. Dalam perjalanan aku melewati sebuah rumah sakit. Aku secara nggak sengaja melihat dari kejauhan nampak seorang gadis berambut panjang mengenakan jas ketat putih dan span putih pendek. Wow.. cantik sekali dia. Lalu, waktu dia berdiri menunggu taksi, aku mendekatinya dan kuberhentikan mobilku di depannya.

“Permisi.. Mbak.. bisa mengganggu sebentar..?” kataku sambil memperhatikan wajahnya yang cantik bak bidadari.
“Ya.. ada yang bisa saya bantu..?” katanya dengan suara merdu sekali.
Lalu, dia menyambutku dengan senyum manis walaupun sebelumnya sempat melirik jam di tangannya.

Setelan bajunya sungguh menarik. Rupanya ia memadukan rok bawahan seragam perawatnya dengan blazer ketat putih juga, sampai belahan dadanya nampak menonjol saking ketatnya. Sedang sepatunya sudah diganti sepatu hak tinggi. Wah kasihan juga cewek cantik ini menunggu kedinginan di tengah udara dingin musim hujan. Di leher jenjangnya terbelit syal bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak ketatnya blazer, hm.. mulusnya.

Lalu, aku turun dari mobil.
“Permisi Mbak, saya mau tanya.. kalau mau ke jalan Sonken.. arahnya kemana ya Mbak..?” kataku.
“Ooo.. Mas lurus aja, terus kalau ada perempatan belok kanan, lalu belok kiri, terus kanan terus kiri lagi..” jawabnya membingungkan.
“Eee.. saya tambah bingung. Gimana kalau Mbak mengantar saya ke alamat ini dan sebagai gantinya saya akan mengantar Mbak pulang ke rumah Mbak.. gimana..?” kataku.

“Aduhh.. gimana ya, saya sebenarnya mau ke Rumah Sakit.” jawabnya agak takut.
“Jangan takut Mbak.. saya orang baik-baik kok, nanti saya antar Mbak.” kataku lagi.
“Ya.. deh.” jawabnya.
“Nah, gitu dong.. mari silakan.” kataku sambil membukakan pintu mobil.
Akhirnya kami langsung saja mencari jalan kutanyakan tadi. Padahal itu rumahku sendiri lho.

“Eee.., kalau boleh tahu nama Mbak siapa..?” tanyaku.
“Juliet Mas..” katanya singkat sambil menutupi bagian pahanya yang dari tadi membuat juniorku berdiri. Habisnya putih, mulus dan berbulu sih.
“Saya Sony, Mbak. Kok malam-malam ke rumah sakit. Siapa yang sakit Mbak..?” tanyaku pura-pura nggak tahu.
“Nggak ada Mas.. Juliet kerja di rumah sakit.” jawabnya.
“Ooo.. jadi Mbak seorang suster rupanya. Wah.., Sony tidak menyangka Mbak seorang suster, habis Mbak kelihatan seperti artis Tamara Gerandong sih..” kataku becanda.
“Ahh.. Mas Sony bisa aja..” jawabnya manja sambil mencubit lenganku.

Wahh.., nih cewek kok sudah berani nyubit tanganku.

“Mbak Juliet masih sendiri atau udah menikah..?” tanyaku.
Lalu, dia diam seribu satu bahasa.
“Lho.., kenapa Mbak koq diam.. apa pertanyaan Sony menyinggung perasaan Mbak.. kalau gitu nggak usah dijawab deh..” kataku.
“Nggak kok nggak pa-pa, sebetulnya Juliet udah menikah tapi kami harus berpisah gara-gara suami Mbak selingkuh dengan cewek lain..” katanya sambil meneteskan air mata.

“Ma’af ya Mbak. Sony telah mengungkit masalah pribadi Mbak.” kataku.
“Nggak pa-pa. Eee.., omong-omong umur Mas Sony berapa sih..?” tanyanya.
“Udah tua Mbak. 24 tahun 12 bulan 1 hari 1 jam 30 menit 20 detik.” kataku.
“Idihh.. Mas Sony masih tergolong ‘brondong’ dong. Kalau Mbak udah kepala tiga lebih sedikit lagi. Udah tua Son.” katanya manja.
“Tapi Mbak masih cantik dan sexy lho.” kataku memuji.
“Ahh.. Mbak udah merasa tua kok Son.” katanya.
“Tapi, Sony lihat Mbak masih montok lho, dan sorry ya Mbak.” kataku menggoda.
“Ihh.. kamu nakal ya.” katanya sambil menyubit pahaku.

Wow.., tadi nyubit tangan, sekarang paha. Ada peningkatan nih.

“Sony udah punya pacar belum? Pasti sudah ya, kamu kan cakep.” katanya manja.
“Sony belum punya pacar Mbak. Sony masih perjaka lho.” kataku.
“Apa..! Masih perjaka. Ahh.. yang bener. Masak sih..?” katanya.
“Bener Mbak. Swear deh. Emang kenapa sih Mbak..?” kataku.
“Nggak pa-pa, cuman Mbak nggak percaya kalau cowok seganteng kamu masih belum punya pacar dan hebatnya masih perjaka lagi. Nah.., Mbak jadi curiga nih.” katanya.
“Curiga apaan Mbak..? Sony cowok normal kok. Kalau Mbak nggak percaya boleh ditest.” kataku menantang.
“Baik. Entar kalau udah nyampe ya..!” katanya.

Wuihh.. bener-bener ada kemajuan pembaca. Dia mau ML samaku hi.. hi.. hi.

Lalu, setelah sampai, “Son. Mbak pingin kencing nih..! Dimana WC-nya..?” tanyanya.
“Sama Sony aja Mbak sekalian ngetes. Ok..?” kataku.
“Ya deh adik ganteng.” katanya manja.

Sesampai di WC, Mbak Juliet melepaskan CD-nya, lalu duduk kencing di kloset. Sementara saya mengeluarkan si Junior dan kencing di sebelahnya.
“Wow.., punyamu boleh juga Son.” katanya sambil melihat kemaluanku.

Setelah kencing cukup banyak, lalu penisku kucuci pakai air semprotan. Ternyata karena melihat paha mulus Mbak Juliet, airnya mengenai celanaku. Tanpa kusadari Mbak Juliet lalu mengambil toilet paper lalu jongkok membersihkan celana basahku. Sementara itu si Junior masih keluar dengan gagah, sekalian dikeringkan oleh tangan Mbak Juliet yang cekatan.

Terkena jemari mulus yang dingin itu, karuan saja si Junior langsung siaga kuning. Melihat itu, Mbak Juliet lalu tersenyum dan melirik ke arahku, lalu penisku yang mekar langsung saja dikulumnya. Terkena perubahan suhu begitu, si Junior langsung code red. Mulut Mbak Juliet terlalu kecil, jadi tidak mampu menampung keseluruhannya. Tapi lama-lama mulutnya dapat menampung setengahnya.

Mungkin karena melihat si Junior yang tegap, tinggi dan gagah, Mbak Juliet jadi sangat bernafsu. Lidahnya semangat sekali mengitari Juniorku sambil sesekali menggigit kantungku yang sudah mengeras. Sesekali disedotnya ujung penisku, lalu ditarik mulutnya sehingga berbunyi. Mulut mungil indahnya bagai vacum cleaner menyedot si Junior. Jemari halusnya menyelinap di antara celah pantatku dan sesekali menggenggam si Junior yang mulai berontak kena siksaan. Sementara itu aku yang memang terasa nikmat, hanya dapat mengelus-elus kepala dan mencengkeram rambut Mbak Juliet.

“Ahh.., Mbak, enak. Yahh..!” mendengar rintihanku dia tetap memasukkan Juniorku ke dalam mulutnya.
“Oohh.., terus Mbak..!” pintaku.
Sementara itu kepalanya menghisap Juniorku sampai keadaan dimana aku merasakan kejang dan penisku berdenyut-denyut sangat hebat sekali.
“Oohh.. Ohh.. Sony hampir keluar Mbak. Ohh..!” erangku.

Semakin ganas kepalanya maju-mundur. Dia semakin mempercepat kocokan dan sedotannya. Dan, Juniorku memuntahkan isinya di dalam mulut Mbak Juliet dan dengan bernafsu ditelannya muntahan sperma dan sisanya dijilatnya sampai bersih.
“Makasih ya Mbak.” kataku.
“Sama-sama, Son. Tapi, Mbak masih belum yakin kamu bisa ngalahin Mbak.” katanya dengan lembut.
“Jadi ceritanya Sony mau dites lagi nih..?” tanyaku.
“Ya ya ya. Dan sekarang kita mandi dulu biar segar dan kita ulangi lagi nanti ya di kamar.” katanya.

Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Juliet datang membawa segelas kopi susu hangat yang dibuatnya di dapurku dan memberikannya padaku.
“Son.., minum dulu ya Sayang. Biar tambah segar.” katanya sambil menyodorkannya padaku.
Lalu, aku seruput kopi susu hangat itu dan, “Aahh.. enak sekali minuman bikinan Mbak. Wow.. pas susunya.” kataku menggodanya.
“Idih. Kamu nakal deh..!” katanya sambil melompat ke arahku.

Kami berciuman kembali. Mbak Juliet tampak sangat menikmati ciumanku ini. Matanya terpejam dan napasnya mendesah serta bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku. Jari lentik Mbak Juliet itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku. Sementara penisku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang. Bagian bawah kepala Juniorku langsung tergencet oleh perut Mbak Juliet yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku.

Jari-jarinya mulai meraba kedua buah pantatku. Mula-mula rabaannya melingkar perlahan, tapi makin cepat, sampai akhirnya dengan suara mendesah diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati telinga dan leher Mbak Juliet, membuat tubuh janda cantik dan semok itu menggelinjang-gelinjang.
“Ohh.. Son. Geli ahh..!”

Kuturunkan bibirku dari kuping menelusuri leher, terus turun ke dada. Jari-jarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya mengecupi areal dadanya, jariku membuka satu persatu kancing pakaiannya itu hingga terlihat belahan dadanya yang besar. Payudara itu menyembul dari balik baju mandinya, bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah ke wajahku. Amboi.. seksi habis deh. Tanpa membuang waktu, kulahap payudara itu dengan gemas, kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang itu.

Tiba-tiba tangan kanan Mbak Juliet berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu. Kulirik cermin lemari, di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk menghisap buah dada wanita berbadan montok yang masih dibalut pakaian mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Juliet mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku. Dan dalam sekejap, Juniorku sudah berada dalam genggamannya.

Dengan lembut dan penuh perasaan, ia mulai mengocok Juniorku ke atas ke bawah. Sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala si Junior.
“Aahh.. Mbaak. Aahh..!” aku hanya dapat mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya.

Tiba-tiba Mbak Juliet mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang dan ia sendiri kemudian berlutut di hadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu. Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala si Junior, kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi dengan cairan lengket berwarna bening.

Tiba-tiba ia memasukkan otongku ke dalam mulutnya dan aku merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Juliet memasukkan dan mengeluarkan otongku didalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala otongku itu.

“Aahh.. Ouuhh.. Mbak. Uuhh..!” erangku.
Aku hanya dapat terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Juliet tampak begitu menikmati si Junior yang berada di dalam mulutnya sampai-sampai ia memejamkan matanya. Tangan kiriku kembali meremas-remas bauh dada Mbak Juliet, sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah pantatnya.
“Mmh.. Mmh.. Emhh..!” rintihnya sambil terus mengulum si Junior ketika kuraba-raba vaginanya.
Mbak Juliet semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tidak karuan.

Seakan tidak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah perut dan dengan mudah jariku mencapai liang senggamanya yang sudah sangat basah itu. Dalam 2.. 3.. 4 detik jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas kemaluan Mbak Juliet. Jari tengah dan telunjukku segera mengocok kacangnya Mbak Juliet dengan cepat.
“Mmhh.. mmhh.. ahh..” Mbak Juliet melepaskan Juniorku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitnya.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s