Anything for you – 2

Sekitar 10 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak Juliet menengadahkan wajahnya ke arahku dan merintih.

“Son.. Mbak udah nggak tahan nih.. please..!” tanpa menunggu kata-kata selanjutnya kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya.
Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin rias sehingga Mbak Juliet kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah.

Kurenggangkan kedua kaki putih dan mulusnya, lalu kugosok-gosokkan Juniorku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menulusuri tulang ekornya. Kutempelkan di vaginanya yang dari tadi sudah siap tempur. Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam kemaluannya yang sudah sangat banjir itu.

“Aahh..!” Mbak Juliet menggigit bibirnya menikmati penisku yang tengah memasuki vaginanya.
“Oohh.. Son. Oohh..!” erangnya keenakan.
“AAKHH..!” jeritnya ketika dengan agak keras kusodokkan Juniorku sedalam-dalamnya.
Tampak Mbak Juliet itu masih menggigit bibirnya menikmati si Junior yang terbenam penuh di dalam liang senggamanya.

Segera kupompakan si Junior dengan cepat dari arah belakang, terus kutempelkan perut dan dadaku di punggung wanita itu dan kedua tanganku dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak Juliet yang sudah sangat keras itu.
“Oohh.. ouhh..!” erangnya keras sekali.

Tiba-tiba Mbak Juliet mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kami pun berciuman dengan posisi Mbak Juliet yang tetap membelakangiku. Karena ia menegakkan badannya, Mbak Juliet menaikkan kaki kirinya ke atas meja riasnya untuk memudahkanku terus menyodokkan si Junior.

Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua buah dadanya. Tangan kiri Mbak Juliet menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Ketiaknya yang berbulu lebat menyebarkan wangi khas yang membuatku semakin bernafsu lagi. Tiba-tiba Mbak Juliet merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya mengekspresikan seakan-akan kenikmatan yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremasnya untuk kembali memainkan kacangnya. Goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat tidak terkendali, dinding kemaluannya mulai terasa berdenyut-denyut.

Dia keluar dengan sangat dasyat, sampai pahaku basah terkena semprotannya. Lalu, aku berhenti sebentar, supaya kondisi vaginanya pulih kembali, sebab dia sudah mencapai puncak orgasmenya. Kugendong dia dan kubaringkan di ranjang. Aku kagum dengan tubuhnya yang sempurna itu.
“Kamu kenapa Son..?” katanya sambil membersihkan bekas cairannya di kemaluannya.
“Sony kagum ama tubuh Mbak yang aduhai itu..” kataku.
“Emang kamu baru pertama ya.. melihat tubuh cewek bugil..?” tanyanya.
“Ya.. Mbak. Sony baru sekali ini melihat tubuh cewek bugil di hadapan Sony.” kataku.
“Ahh.. kamu bohong. Kalau kamu baru pertama bagaimana kamu bisa semahir itu ngerjain Mbak. Mbak sampai melayang dan keluar sebegini banyak..?” katanya tidak percaya.

“Ya.., Sony nggak tahu. Sony hanya belajar dari pengalaman teman-teman Sony. Itu aja. Sony memang baru pertama kali melakukan ini. Dan ternyata ngesex itu mudah dan nikmat. Apalagi di sini ada cewek secantik Mbak menemani Sony. Ya kan Mbak..?” kataku sambil kukecup bibirnya.
“Ya dehh. Mbak percaya.” katanya.
“Mbak. Sony belum keluar lho.” kataku.
“Kamu mau ngerjain Mbak lagi. Ya deh.., Mbak juga udah teransang lagi nih..!” katanya sambil membuka kakinya dan terlihatlah liangnya yang masih sedikit basah.

Perlahan-lahan kuarahkan Juniorku ke depan bibir kemaluannya, sengaja tidak kumasukkan dulu, tapi kubuat main-main dulu dengan cara kuserempetkan ujung kepala Juniorku ke klitorisnya. Dia mulai mengerang lagi. Perlahan kumasukkan batangku ke lubang kenikmatannya yang masih agak basah oleh semprotan cairannya tadi.

Dan, “Bleess..” batang kemaluanku dengan gagahnya maju memasuki liang surga Mbak Juliet.
“Ooh.. Sonn.. enak Sonn.. oh.. terus Sonn.. ohh.. oohh..!” desahnya sambil tangannya meremas kedua putingku.
Aku semakin mempercepat goyangan. Setelah beberapa lama, keringatku pun membasahi dada Mbak Juliet. Tubuh kami berdua berkeringat hingga kami pun bermandi peluh. Justru hal itulah yang membuatku makin bernafsu. Sambil merem melek aku menikmati hal itu, hingga perutku mulai mengeras, otot perut mulai mengencang siap untuk meledakkan sesuatu, bergetar hebat.

“Oh Mbak. Sony mau keluar. Sony mulai keluar Mbak..! Keluarin di mana Mbak..? Dalem ya..? Oh.. oh..!” aku mengerang kenikmatan.
“Keluarin di dalam aja Say, Mbak juga mulai keluar nih. Yah.. yah.. terus Son..!” dengan menjerit Mbak Juliet terlihat pasrah.
“Ooh.. Mbak.. sekarang.. yaa.. oh.. ah.. ahh.. sshh.. ah..!”
“Crot.. crot.. crot.. cret..!” kusemburkan spermaku di dalam liang vagina Mbak Juliet, begitu banyak spermaku sampai-sampai tertumpah di sprei.

Aku menjatuhkan badan di sisi Mbak Juliet, lalu Mbak Juliet bangun dan mengulum batangku yang masih berlepotan spermaku, menjilat dan mengulumnya sampai bersih. Rupanya dia menelan sisa-sisa sperma yang ada di batangku, lalu terjatuh di sisiku juga. Kami berdua terengah-engah dengan napas memburu, mencoba memahami apa yang kami lakukan tadi.

“Thank’s ya Mbak. Mbak baik sekali ama Sony.” kukecup kening dan pipinya sambil meremas payudaranya.
“Ya. Mbak puas dengan kamu Son. Dan mestinya Mbak yang berterima kasih sama kamu. Sony telah mengisi masa kesepian Mbak.” kata Mbak Juliet sambil mengecup bibirku dengan mesra.
Kami pergi mandi membersihkan badan, lalu berganti pakaian terus tertidur dengan nyenyak. Mbak Juliet tidur di sampingku sambil memelukku. Ohh, sungguh nikmatnya.

Kira-kira jam 8 aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos melalui celah gordin jendela. Mbak Juliet masih terlelap dalam pelukanku. Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, dan yang lucunya ia sedang mengenyot jempolnya seperti bayi. Kubelai rambut Mbak Juliet yang tergerai di atas dadaku. Oh ya, pada saat itu aku hanya mengenakan celana pendek saja. Sementara Mbak Juliet memakai kaosku karena dia tidak membawa ganti jadi ya kebesaran.

Ternyata belaianku membuat Mbak Juliet terbangun. Walaupun tidak membuka mata, tapi senyumnya mengembang, masih sambil menghisap jempolnya. Tangan satunya kini menyelinap di antara pahanya dan pahanya semakin dirapatkan. Kuperhatikan betisnya yang lencir bulir padi, indah sekali plus tumit yang lancip kecil pink. Walaupun udara kamar tidak terlalu dingin, namun tetap saja kulit kami merinding kena dinginnya udara pagi. Aku berusaha meraih jas wool-ku di meja lalu kupakai menyelimuti Mbak Juliet, kontras dengan kulit putih mulusnya.

“Mbak kedinginan ya..?” tanyaku sambil mengecup keningnya.
Mbak Juliet hanya mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Si Junior dari tadi berdiri terus, sepertinya tidak tahan melihat paha mulus Mbak Juliet. Lalu tanganku menyelinap ke balik jas hitamku mengelus paha mulus Mbak Juliet.

“Son, udah dong. Mbak ngantuk nihh..!” tiba-tiba Mbak Juliet protes manja.
Mendengar itu bukannya berhenti malah jariku mulai menyelinap ke arah pangkal pahanya. Mbak Juliet hanya mendesah manja. Kini terasa lembutnya celana pendek piyama sutraku. Kugesek sebentar kawasan sex spotnya, wah langsung basah dan merembes pada celana sutra hitamnya.

“Ooh Son, I like that. Terus..! Oohh..!” erang Mbak Juliet.
Kusingkirkan jasku lalu kutegakkan tubuh Mbak Juliet sejenak, lalu kubaringkan. Kuambil posisi menindihnya tapi masih kutopang dengan tanganku. Lembut kukecup bibir Mbak Juliet yang merekah. Ia langsung menyedot dan mengulum bibir bawahku. Tangan Mbak Juliet kini merangkul tengkukku dan bermain dengan rambutku. Tangan kananku masih menopang tubuhku sementara yang kiri merangsang celah kemaluan Mbak Juliet.

Jariku kini menyelinap ke dalam celana sutra dan CD-nya dan merasakan halusnya labia mayoranya yang sudah basah. Jari tengahku mulai berani menembus celah basah itu. Wah, masih sempit seperti malam tadi juga. Mbak Juliet mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian saja kulepaskan pakaian tidurnya dan ‘onderdil’-nya. Mbak Juliet tidak protes malah membantu. Giliran kini celana pendek kutanggalkan. Mbak Juliet tampaknya tidak sabaran juga, kaos oblongnya langsung dilepas, lalu BH-nya, sehingga payudaranya yang montok terlihat menjulang bagaikan ‘Gunung Semeru’. Jadilah kami berdua totally naked and ready to esek-esek.

Perlahan kugesekkan si Junior ke vaginanya. Woow.., rasanya panas kontras dengan hawa kamar yang dingin. Lalu perlahan-lahan Mbak Juliet mulai mencoba memasukkan si Junior ke liang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Kedua tanganku menopang tubuhku pada ranjang.
“Aah.. Son..! Terus.., ohh..!” erangnya sambil membantuku dengan menekan pantatku ke depan.
Batangku menembus bibir vaginanya. Wah.., kok hanya masuk kepalanya saja, jelas saya tidak tahan. Mungkin kemaluannya belum benar-benar basah, soalnya tadi aku tisak pemanasan dulu.

Dengan sentakan, kumulai menekan ke bawah supaya si Jumior masuk lebih dalam, untung Mbak Juliet sudah mulai basah. Dia hanya kaget sebentar sebelum akhirnya ia merangkul tengkukku dan menekankan wajahku pada dadanya yang bulat sintal putih mulus.
“Son, ohh.. punyamu kok tambah melar..? Ohh..!” erangnya.
Mbak Juliet terus merintih, sepertinya kesakitan beneran. Ya sudah, lalu kupelankan sedikit.

“Sorry Sayang. Kalau sakit bilang yah..!” seruku berbisik lembut.
Mbak Juliet mengangguk, tampak setetes air mata di sudut matanya. Wah.., tidak tega aku. Ya sudah, kubiarkan dia yang menentukan kecepatan. Walaupun terasa kemaluannya licin dan basah, tapi masih sempit sekali, aku sedikit tidak percaya, padahal tadi malam tidak sesempit ini. Namun perlahan dan pasti Mbak Juliet tetap memaksa si Junior masuk.

Perlahan ia menaikkan pinggulnya. Dengan gerakan setengah berputar, si Junior tertekan untuk menyodok kemaluannya kembali. Batangku sudah tidak sekeras tadi gara-gara aku kasihan melihat nafsuku membuat Mbak Juliet kesakitan. Lama-lama agak longgar juga. Lalu kuberanikan mulai mengenjot si Junior di dalam liangnya. Mbak Juliet mulai mengerang tidak karuan. Liar dan sexy, tangannya kini meremas pantatku.

Beberapa menit kami begitu bersemangat hingga suatu saat, seketika si Junior serasa dijepit oleh kemaluan Mbak Juliet. Terasa dinding rahimnya meremas-remas dengan dahsyat sekali.
“Ohh.. Mbak.. keluarr..! Ahh..!” erangnya.
Lalu, pinggulnya liar menggelinjang dengan kuat. Rupanya Mbak Juliet orgasme. Setelah itu terasa basah sekali sampai cairannya menetes pada kantung penisku.

Tiba-tiba muncul seleraku menikmati juicenya yang jelas banjir bandang itu. Kucabut si Junior yang disambut protes wajah Mbak Juliet yang merengut. Namun begitu kuraih pinggulnya, ia tahu maksudku. Dengan cepat ia berbalik lalu menungging, kedua tangannya menopang pada pinggiran ranjang sedang lututnya terkembang pada ranjang. Pantatnya yang bulat indah megal-megol menggoda untuk dimasuki.

Mbak Juliet tersentak kaget ketika ternyata aku tidak kembali melakukan penetrasi, melainkan berlutut di belakangnya lalu menjilati celahnya. Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Ia melenguh keras dan menikmatinya. Tidak lama kemudian kembali Mbak Juliet mengejang, dan hidungku mendadak basah kena cairan berbau khas yang meleleh. Lalu, tubuh Mbak Juliet langsung lemas di atas ranjang. Langsung saja kuangkat pantatnya. Si Junior masuk lagi dari belakang. Licin banget sampai bunyi kayak orang kentut gitu saking kencengnya genjotanku.

“Ohh.. udah Son, ahh..!” Mbak Juliet berteriak menyuruhku berhenti, tapi mana mau aku berhenti.
Tangannya mencengkeram erat sprei dan tubuhnya terus menggelinjang hebat. Setelah 15 menitan menggenjot, akhirnya kucabut si Junior lalu kubalikkan tubuh Mbak Juliet. Lalu kusodorkan saja penisku itu ke wajahnya.

“Ahh.. Mbak. Sonny.. keluarr..!” erangku keenakan.
Kukeluarkan segenap benih cintaku ke dalam mulut Mbak Juliet yang terus menyedot. Si Junior lalu memuncratkan cairanku ke wajahnya. Kira-kira 5 semprotan kukeluarkan, dan dilahap habis oleh Mbak Juliet. Ternyata pengalaman nonton ‘BF’ ada gunanya ya.

Lalu, kami berpelukan dengan tubuh telanjang.
“Son, makasih ya, kamu telah memberi saluran yang selama ini belum pernah Mbak rasakan.” katanya sambil mencium bibirku dengan lembut.
“Terus gimana Mbak tentang rencana Mbak selanjutnya. Mbak mau jadi kekasih Sony..?” tanyaku.
“Entar aja deh, biar Mbak pikir-pikir dulu, Son.” katanya.
“Bila Mbak benar-benar mau jadi kekasih Sony, Sony nggak akan mengecewakan Mbak.” kataku.
“Ahh, yang bener Son. Emang kamu masih mau ama aku. Cewek yang udah tua ini..?” katanya.
“Sony cinta ama Mbak sejak pertama lihat Mbak tadi. Sony nggak memperdulikan usia Mbak berapa, yang penting Sony cinta ama Mbak.” kataku sambil mengecup bibirnya.

“Ohh Son, kau sungguh lelaki jantan dan bertanggung-jawab. Sebetulnya Mbak juga suka ama kamu, tapi kan Mbak sadar kalau usia Mbak udah di atas kamu. Tapi, kenyataannya kamu suka ama Mbak. Jadi, Mbak setuju aja. Tapi Sony sabar dulu ya, manis.” katanya sambil mengecup bibirku lagi.
“Tapi.., Mbak masih mau lagi kan esek-esek lagi dengan Sony..?” tanyaku.
“Ya dong Sayang. Mbak kan kesepian dan kamu harus memuaskan Mbak setiap waktu. Ya Sayang.” katanya.

Itulah ceritaku yang menjadi salah satu kenanganku bersama seorang suster. Setelah itu aku menjadi kekasih baginya dan selalu siap melayani keinginan birahinya, pokoknya segalanya adalah untuk dia.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s