Pengalaman bersama Christine

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan sedikit mengenai diri saya sendiri. Saya bernama Lucky, berusia 29 tahun, seorang WNI keturunan. Sedikit sekali ya.. tetapi itulah saya.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang gadis manis bernama Christine. Dia adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di sebuah universitas terkenal di kota saya. Dia benar-benar seorang gadis yang manis, berambut hitam sedikit di bawah bahu, berkulit putih mulus dengan tinggi sekitar 160 cm. Yang membuat saya sangat tertarik dengannya adalah bodynya yang sangat sekal. Mungkin karena dia senang sekali dengan olahraga berenang. Sehingga bodynya sangat sekal, kulitnya juga sangat halus.

Walaupun saya sudah mengenalnya hampir satu tahun (diperkenalkan oleh teman saya yang sekampus dengannya), tapi saya jarang menemuinya karena kesibukan masing-masing. Pada suatu hari, dia kebetulan berniat untuk membeli sebuah modem, karena dia tahu saya banyak kenalan yang bergerak di bidang komputer, maka dia menghubungi saya untuk mengantarkannya membeli modem.

Setelah berkeliling-keliling di pusat komputer, akhirnya dia membeli sebuah modem yang sesuai dengan keinginannya. Dia bilang di tempat kostnya ada telepon dalam kamar, daripada ke warnet, mendingan pasang saja sendiri.

Setelah membeli modem, saya menawarkannya untuk beristirahat di cafe sambil mengisi tenggorokan yang kering. Sewaktu duduk berhadapan di cafe, saya seakan tidak ada puasnya terus memandangi dirinya. Pada hari itu dia mengenakan kaos ketat putih dipadu dengan jeans biru muda, benar-benar sangat mengesankan. Buah dadanya yang sedang-sedang saja menjadi sangat wah dengan kaos ketat itu. Mungkin dia juga merasa kalau saya terus-terusan memandanginya. Kadang-kadang dia tertunduk malu, kadang-kadang wajahnya memerah sambil tersenyum. Benar-benar membuat saya semakin ingin menatapnya. Akhirnya dia mengajak saya untuk meninggalkan tempat cafe.

Waktu di jalan, dia dengan malu-malu bertanya apakah saya ada kesibukan lain setelah mengantarnya. Saya jawab hari itu kebetulan tidak ada kesibukan. Dan akhirnya dia meminta saya untuk memasangkan modemnya. Wah.., dengan sangat bergembira, saya menyetujuinya. Akhirnya sampailah kami di kostnya yang sangat asri itu, ada kolam renang segala.

Dia menyuruh saya menunggu di luar, sementara dia mengganti pakaiannya, panas katanya. Tidak lama kemudian dia keluar dengan menggunakan kaos putih tipis longgar dan celana yang sangat pendek yang juga longgar. Terlihatlah garis bra-nya yang berwarna putih dan juga cetakan celana dalamnya yang samar-samar terlihat berwarna biru muda. Tanpa disadari, sesuatu di bawah sana saya rasakan mulai menggeliat, dan saya hanya bengong memandanginya. Kakinya yang putih panjang sangat mulus, halus dan sekal. Karena merasa tidak enak, saya meminta izin untuk ke toilet sebentar, sambil membetulkan si Lucky junior yang mulai melenceng arahnya. Dia menunggu di ruang tamu.

Selesai dari toilet, dia mengajak saya untuk masuk ke kamarnya. Dia berjalan di depan saya, saya sampai melotot memandangi pantatnya yang sangat bulat bergoyang-goyang dengan indahnya. Untunglah si Lucky junior telah saya bereskan arahnya.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, dia menutup pintu kamarnya, karena untuk memasang kabel sambungan ke modem, mesti melewati belakang pintu. Sementara saya mulai bekerja memasang modemnya. Dia lalu menyalakan CD Playernya dan duduk di ranjangnya. Wah asyiknya, walaupun sambil sibuk memasang modem, saya merasakan suasana yang belum pernah saya rasakan, berdua di dalam kamar tertutup dengan gadis manis sambil mendengarkan musik yang mengalun perlahan.

Beberapa saat kemudian, dia menghampiri saya sambil menanyakan apa yang dapat dia bantu. Dia meletakkan tangannya di meja belajarnya sehingga agak membungkuk. Ketika saya mendongak untuk menatapnya, saya melihat gundukan payudara yang terbungkus bra dari leher kaos longgarnya itu. Saya tertegun sejenak dan secepatnya sadar saya mengalihkan pandangan ke wajahnya. Dia melihat saya sambil tersenyum, mungkin dia tidak menyadari kalau cara berdirinya itu telah memperlihatkan kulit dadanya yang putih mulus.

Saya bilang sementara belum memerlukan bantuannya. Dia kembali ke ranjangnya, lalu menyalakan TV. Dia duduk sambil memeluk kedua lututnya, sehingga celana pendeknya yang longgar itu tertarik ke bawah, memperlihatkan seluruh pahanya yang putih mulus itu. Sayang sekali meja belajarnya berada di samping ranjangnya, coba kalau berhadapan dengan cara duduknya, pasti saya dapat melihat yang lebih mengasyikkan.

Beberapa saat kemudian, saya sudah selesai memasang modemnya. Saya menawarkan untuk menggunakan account internet saya, karena dia belum mendaftar ke ISP. Dia setuju saja. Setelah saya login, dia segera duduk di kursi belajarnya dan mencoba browsing ke beberapa situs. Saya ingin sekali mencoba untuk membaca cerita Rumah Seks berdua dengan seorang gadis, tapi saya tidak mempunyai keberanian untuk mengajaknya.

Tidak lama dia memanggil saya, katanya tolong ajarin untuk memasang mIRC di komputernya. Saya berdiri di belakangnya, sambil menyuruhnya untuk mengetikkan situs untuk men-download. Karena dia masih bingung, secara reflek saya memegang mouse yang ternyata masih dipegangnya. Saya agak kaget, tapi karena sudah terlanjur, saya pegang terus ‘mouse’ itu dan mengarahkannya. Sambil membungkuk, saya mencium bau harum rambutnya. Si Lucky junior yang sudah tidur, perlahan-lahan mulai bereaksi lagi.

Saya makin mendekatkan kepala saya ke rambutnya, sambil terus berbicara mengajarinya. Karena merasa lelah, dia menyandarkan punggungnya ke belakang, merapat ke badan saya tepat mengenai juniorku yang agak mengeras. Dia mendongakkan kepalanya menatap saya dengan pandangan heran. Tapi setelah itu dia kembali berkonsentrasi ke monitor. Merasa tanggung basah, saya semakin merapatkan pinggang saya ke punggungnya sambil sedikit mengesek-gesekan si junior. Beruntunglah hari itu saya memakai celana panjang kain, sehingga gesekannya sangat terasa. Secara otomatis, juniorku itu mengeras, dia kembali mendongakkan kepalanya menatap saya dengan pandangan yang tetap heran. Secara tidak sadar, saya menurunkan bibir saya melumat bibirnya yang ranum. Dia hanya diam saja, mungkin karena shock.

Lama kelamaan, bibirnya mulai bergerak dan mulai aktif mengecup bibirnya. Saya tidak tinggal diam, tangan saya meraba-raba batang lengannya yang halus. Makin lama makin ke atas dan mengenai pinggiran payudaranya. Dia mulai mendesah dan seakan tidak mau melepaskan bibirnya. Tangan saya yang satu lagi meraba-raba rambutnya sambil menopang kepalanya agar dia tidak merasa pegal. Saya mulai memberanikan diri meraba payudara kirinya secara halus. Dan dia pun semakin mendesah.

Saya julurkan lidah ke dalam mulutnya, dia kaget dan melepaskan ciuman. Saya pun ikut kaget, sehingga si junior langsung melemas. Matanya sayu menatap saya, sementara tangan saya masih berada di depan payudaranya. Saya beranikan diri mengajaknya berdiri dan membimbingnya ke ranjang. Dia hanya menurut pasrah.

Saya baringkan dia di ranjang, dan mulai mengecup bibirnya lagi. Kali ini saya lakukan dengan hati-hati. Beberapa saat kemudian, bibirnya mulai bergerak lagi. Secara perlahan saya elus tangannya sampai kembali ke payudaranya. Secara perlahan saya elus-elus, kadang kala meremasnya dengan halus. Christine mulai mendesah lagi. Saya coba untuk memasukkan tangan saya ke balik kaosnya, saya raba perutnya yang ramping dan halus. Dia menggerakkan badannya kegelian. Rabaan tangan mulai naik ke atas sampai di pinggir garis bra-nya. Dia diam saja.

Dengan perasaan takut, saya coba untuk menarik kaosnya ke atas. Ternyata dia menggerakkan tangannya agar saya mudah membuka kaosnya! Saya menjadi makin bergairah. Maklumlah, ini adalah pengalaman pertama saya dengan seorang wanita. Selain itu, hanya VCD dan cerita erotis yang saya lihat.

Terpampanglah badannya yang sangat mulus dengan payudara yang masih tertutup bra putih. Saya tidak berani melepas ciuman, karena takut dia sadar. Saya remas-remas payudaranya. Tangannya memegangi kepala saya agar tidak melepas ciuman, dan dia semakin medesah desah.
“Mmmpphh.. mmpphh..”

Saya selipkan jari ke balik bra-nya. Terasa di ujung jari putingnya yang mengeras. Tangan yang satu lagi mulai turun meraba pahanya, lututnya. Saya mencoba untuk melepaskan bra-nya. Saya meraba punggungnya sambil mencari kaitan bra-nya, dia melepaskan peganggannya dari kepala saya dan menghentikan pagutannya. Sambil tersenyum malu-malu, dia membuka bra-nya, ternyata kancingnya di depan. Apa yang suka saya bayangkan pun terpampang jelas, buah dada yang masih kencang, mungkin 32 atau 34, dengan puting kemerahan menantang.

Tanpa membuang waktu, saya ciumi payudaranya, sesekali saya gigit putingnya. Dia mendekap kepala saya sambil mengucek rambut saya. Mulutnya tidak henti-hentinya mendesah, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam.

Sementara tangan saya sudah mendarat di paha bagian dalam. Dia agak membuka pahanya memudahkan perjalanan tangan saya. Terus mengelus sampai di selangkangannya. Saya merasakan agak lembab dan basah walaupun masih di balik celana pendeknya. Tangan ini mulai menyelusup meraba CD-nya. Ketika melalui bagian selangkangan, dia meloncat kaget seperti kena aliran listrik. Saya pun terus mengusap di daerah itu sehingga makin lama makin terasa basah, sementara badannya semakin menggelinjang dan desahannya semakin menjadi. Matanya terus tertutup rapat.

Saya mulai menurunkan jilatan menyusuri perutnya, turun melewati celananya dan mulai menjilati pahanya. Tangan saya mulai menyelinap ke balik CD-nya, terasa bulu-bulu keriting halus yang cukup rimbun. Jari saya arahkan ke tempat yang sangat basah. Kembali dia mengejut dan merapatkan pahanya. Saya sentuh dengan halus sesuatu yang mengeras disana. Dia semakin meracau dan mendongakkan kepalanya.
“Terushh.. Luckyy.. Teruusshh.. Agak cep.. athh..”
Saya bingung mendengarnya, saya mempercepat gerakan jari, sampai akhirnya dia menjerit tertahan dan menjepitkan pahanya. “Aaahh.. Ahh.. Aahh..”
Setelah itu dia terdiam. Saya kaget dan memanggil, “Tin.. ” Tapi dia diam saja. Sementara tangan saya masih terus bergerak menggesek.

Meski bingung, saya mencoba membuka celananya karena merasa penasaran. Dia mengangkat pinggulnya, sehingga dia tinggal mengenakan CD-nya yang berwarna biru muda. Bagian selangkangannya sangat basah, terlihat bulu hitam yang merimbun disana. Saya mulai menjilati celana dalamnya. Christine mulai bergerak lagi, menggoyangkan pinggulnya. Lidah saya menyelinap melalui pinggir CD-nya. Dia melonjakkan pinggulnya seperti tadi, ada listriknya kali ya. Terasa asin dan gurih, dengan bau yang sangat menggairahkan. Saya tidak pernah mencium bau seperti ini, tapi rasanya menggairahkan. Mungkin karena suasana atau memang mestinya begitu, saya pun tidak tahu. Saya semakin penasaran dan ingin melihat dengan jelas apa yang ada di balik segitiga biru itu.

Perlahan saya tarik celana dalamnya, waaww! Apa yang hanya saya saksikan di BF atau majalah, sekarang terpampang di depan saya, bulunya yang hitam sangat kontras dengan kulitnya yang putih, di tengahnya ada seperti bibir yang vertikal berwarna merah muda dan BASAH! Seperti inilah vagina, saya pikir. Karena saya hanya bengong, Christine melihat ke bawah dan mengapitkan pahanya sambil menutupnya dengan tangan. Wajahnya memerah karena malu. Dia belum pernah dilihat oleh seorang lelaki dalam keadaan telanjang. Sekarang, dalam keadaan vagina yang basah dan terbaring pasrah terbuai rangsangan, seorang lelaki menatap bagian yang paling dilindunginya.

Saya mulai menciumi payudaranya lagi. Dia masih tetap mengapitkan tangan di vaginanya. Tidak lama kemudian Christine mulai terangsang lagi, sehingga tangannya melupakan tugasnya, bergerak mendekap kepalaku dan menekannya ke arah dadanya. Tanganku mengelus rambut selangkangnya sambil sesekali menyentuh bibir vaginanya. Dia mulai menggelinjang dan mendesah lagi. Saya segera turun dan membuka pahanya, langsung saya benamkan wajah di vaginanya.

Christine tidak menyangka akan gerakan yang tiba-tiba ini, hanya bisa pasrah dan mengerang.
“Ouuhh.. Aahh.. Luc.. ky.. ja.. ngan..” tetapi tangannya menekan kepalaku ke vaginanya.
Saya terus mencucup lubang vaginanya, mengigitnya sesuatu yang keras dengan bibirku.
“Acch.. Uuhh.. Shh..” Saya coba menusuk vaginanya dengan mendorongkan hidung. Ternyata vagina memiliki bau yang sangat khas dan merangsang syaraf otak. Saya jilati lagi sambil mendorongkan lidah sejauh-jauhnya. Menggerakkan lidah di dalam vaginanya. Christine semakin menjadi, mendesah, “Ahh.. ahh..” sambil menggoyangkan pinggulnya ke arah kepalaku. Semakin lama dia semakin keras bergoyang, juga desahannya. Untunglah TV dan CD Playernya masih menyala.

Tidak lama kemudian dia menjerit, tangannya mengucek rambutku dengan kasar, pinggulnya dihentak-hentakkan.
“Aahh.. Ayo.. Aaah.. Ak.. u.. Lu.. cky.. Jang..an brenti..”
Lidahku bergerak semakin cepat dan, “Aaakk..!”
Seketika suasana menjadi hening, kakinya mendekap erat kepalaku, pinggulnya terangkat naik, badannya mengejang selama beberapa menit. (Mungkin beberapa detik, tapi karena saya merasa hal ini lama sekali). Akhirnya badannya melemas dan menggelosor seperti tidak bertulang.

“Ssshh..” itulah desahan terakhirnya.
Saya pun melepaskan bibir saya dari vaginanya, dan segera terbebas mencari udara segar. Dia tertidur karena lelah. Mungkin gara-gara dua kali mencapai puncaknya. Saya bangkit dan berjalan menuju mejanya untuk mengambil minum. Ternyata saya telah berasyik masyuk dengan Chistine selama satu jam, karena tadi modem belum saya disconnect.

Saya kembali ke ranjang dan mengelus-elus rambut Christine yang semakin cantik setelah kejadian tadi. Wajahnya memerah dan sangat menarik. Saya kecup keningnya dengan perlahan. Dia membuka matanya dan tersenyum, “Terima kasih Luck, barusan nikmat sekali.”
Saya hanya tersenyum dan mengecup bibirnya. Setelah itu saya pakaikan kembali kaos dan celananya tanpa bra dan CD, karena CD-nya basah kuyup. Saya tutup badannya dengan selimut sambil mengecup keningnya.

“Tin.. saya pulang dulu ya.., met bobo!”
Dia menjawab, “Thanks Luck, laen kali bikin seperti tadi lagi ya..”
Aku mengangguk dan berdiri meninggalkannya.

Itulah pengalamanku dengan Christine. Walaupun junior tidak terpuaskan, saya merasa puas sekali dengan apa yang saya lakukan, dan untuk pertama kalinya saya melihat tubuh wanita yang begitu indah.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s