Pengalaman seks dengan teman kencanku ke 21 – 2

Dandanannya biasa saja, lipstick merah mawar, tanpa perona pipi, eye shadow, maupun bedak yang tebal, rambutnya terurai rapi. Hanya dengan itupun sudah terlihat cantik sekali. Ditambah dengan tas tangannya yang mungil, dia tampak sempurna sebagai gadis belia yang benar-benar manis. Melihatku, dia tersenyum lebar.

“Hai, sory telat…” kataku membuka pembicaraan sambil mengambil posisi duduk di sampingnya, di kursi kayu loby hotel itu.
“Nggak, kamu nggak telat kok. Tepat waktu…” balasnya sambil menatapku.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Udah, pokoknya, kamu aja yang bawa aku jalan. Aku ikut aja…” katanya sambil menepuk pahaku.
“OK. kalau gitu kita langsung jalan aja. Gak usah buang waktu lagi…” ajakku.

Dalam hatiku aku berkata, “supaya cepat sampai ke acara puncak, yang itu tuuh he.. He.. He..”

“Ngomong-ngomong tadi kamu datang dengan apa?” tanyaku sambil jalan.
“Diantar ama temen…” jawabnya.
“Wah! Cowokmu yah?” tanyaku cemas.
“Bukan. Udah ah.. Ayo jalan!” jawabnya sambil memeluk lenganku seperti sudah lama pacaran saja.

Singkatnya, aku ajak dia makan di sebuah restoran kelas menengah yang meja makannya berupa lesehan yang terletak di dalam pondok-pondok yang terpisah dari gedung restorannya. Letak restorannya di kawasan GOR Pangsuma Pontianak. Kalau Anda pernah ke Pontianak, Anda musti tahu restoran Galaherang. Supaya privacy kami tidak terganggu, kami mengambil posisi meja yang paling pojok dengan maksud supaya tak ada yang berlalu-lalang, dan mendengar apabila ada pembicaraan kami yang bersifat pribadi. Dari pembicaraan di restoran itu, aku tahu kalau dia berumur 22 tahun, punya 5 orang saudara, ayah ibu masih ada, tinggal di daerah pal 1.

Tak ada yang istimewa yang perlu kuceritakan di restoran itu. Begitu pula dengan acara jalan-jalan yang hanya berlangsung kurang lebih setengah jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hujan mulai turun dan udara berubah dingin.

“Tina, kamu bisa nginap nggak malam ini?” tanyaku setengah berharap.
“Biisaa…” jawabnya dengan santai.
“kalau gitu kita cari kamar yah?” ajakku.
“OK. Ayo aja!” jawabnya.

Wah, pasti seru acara puncak kita nih. Pembaca, sabar dan ikuti terus ceritaku, OK?

Rupanya, malam itu beberapa hotel kelas menengah yang layak untuk kencan yang romantis talah habis di-booking, sampai akhirnya kami memasuki sebuah kotage yang bernama Arowana Mas. Akhirnya kami mendapat kamar yang bersih, yang layak untuk sebuah kencan yang romantis.

Begitu transaksi sewa menyewa kamar dengan pihak pengelola kotage selesai, dia baru turun dari mobil. Itupun setelah kubukakan pintu dan kugandeng tangannya.

“Silakan, Tuan Putri,…” kataku menggoda.
“Terima kasih, Pangeranku…” balasnya.

Sesampainya di ruang tidur, yang bersebelahan dengan ruang parkir, dia duduk di kursi, sementara aku menghidupkan AC dan TV. Tak ada acara yang menarik, tak ada yang enak ditonton, sebab, gadis yang berada satu kamar denganku sekarang, jauh lebih menarik untuk dilihat dibanding dengan apapun juga. TV hanya untuk mengisi kesunyian. Sambil memandangiku dia mulai membuka bajunya.

“Hah! Gak sabaran amat nih cewek?!” kataku dalam hati.

Saya hanya memberinya senyuman sambil memperhatikan dia membuka jaketnya yang hanya dikancing 2 saja. Setelah jaketnya dilepas, baru terlhat jelas bentuk buah dadanya yang bulat indah, sebesar buah apel besar, yang menonjol di balik kaos ketatnya yang rupanya model “you can see” (tanpa lengan). Dia tampak tersenyum menikmati proses pelepasan pakaiannya yang ditonton dengan seksama olehku.

“Dadamu indah yah?” pujiku.
Dia tersipu dan sambil tersenyum hanya membalas, “Ih!”

Lalu dia membuka kaos ketatnya. Melihat dia mulai memegang ujung bawah kaosnya, jantungku sudah berdegub kencang membayangkan pemandangan yang bakal kulihat berikutnya. Mataku tak berkedip memperhatikan dengan seksama pemandangan menakjubkan yang seperti mimpi indah tapi sudah menjadi nyata! Sambil matanya masih tertuju pada mataku, dia meraih ujung kaosnya, menarik ke atas sampai sebatas payudaranya bagian bawah, melepas pegangan tangannya pada kaos, kemudian menyilangkan lengannya, sekali lagi menggenggam ujung kaosnya, kali ini ditariknya ke atas sampai ke atas kepala. Tampaklah olehku sepasang buah dada imut-imut bulat indah yang masih terbungkus BH, warna hijau, senada dengan warna kaos ketatnya.

“Ijo.. Ijo.. Ijo….” kataku menirukan iklan Sampoerna Hijau untuk menggodanya.

Dia cuma tersenyum. Manis sekali.

Lalu dia berdiri, melepas kaitan ikat pinggangnya, kancing celana jeansnya, resleting, lalu merosotkan celana panjangnya. Bertambah kencanglah degub jantungku seiring dengan bertambahnya pemandangan menakjubkan yang indah hasil ciptaan Tuhan di hadapanku. Pahanya benar-benar mulus, walau bukan paha terputih dibanding dengan paha gadis lain yang pernah kukencani. Warna celana dalamnya juga senada dengan warna BHnya, hijau. Rupanya BH dan celana dalamnya adalah satu set (satu pasangan).

Aku sudah tidak mampu menahan gejolak dalam dadaku untuk tinggal diam dan menonton saja, lalu aku menghampirinya memeluknya dan mencium bibirnya dengan lembut. Dia menyambut ciumanku. Aku berusaha menyedot keluar lidahnya, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dia membalasnya, bergantian. Aku meraih kaitan BHnya di punggung, lalu melepaskannya. Dia membiarkanku melakukannya. Lalu Kuraih celana dalamnya dan kulorotkan. Dia pun bekerjasama dengan mengangkat kakinya satu per satu bergantian begitu celananya kulorotkan sampai ke ujung kakinya, hingga lepas dari injakannya.

Kini telanjang bulatlah dia, tanpa tertutup apa-apa. Mata saya bisa melihat jelas, indahnya tubuh gadis yang berwajah cantik ini. Tubuhnya ramping, padat berisi. Kulitnya bersih mulus, halus dan kenyal. Payudaranya tidak jatuh sama sekali ketika BHnya kulepas. Persis sebesar apel besar, seperti yang kugambarkan diatas. Pinggangnya ramping, pinggulnya yang membesar di bawah pinggangnya tampak sangat serasi dan indah. Bulu kemaluannya yang jarang-jarang, pendek, hitam, tampak seperti jenggotku yang baru tumbuh.

“Lho, kok kamu belum buka pakaian?” tanyanya kepadaku.
“Tolong bukain donk…” pintaku.
“Ih, seperti anak kecil aja, nggak bisa buka baju sendiri…” jawabnya menggoda.
“Kan lebih enak kalau dibukain. Lebih merangrang…” kataku.

Dia tersenyum, lalu mulai membuka kemejaku. Mulai dari kancing teratas, dan seterusnya. Lalu membuka celanaku, mulai dari ikat pinggangku. Setelah merosotkan celana dalamku, tampaklah olehnya jagoanku yang sudah mengembangkan ototnya bak binaraga yang sedang beraksi di atas pentas. Dia meraih dan menggenggam jagoanku yang masih terbungkus celana dalam.

“Besar juga punyamu?” komentarnya sambil melepaskan celana dalamku.
“Apa lebih besar dari punya cowok-cowokmu?” tanyaku ingin tahu.
“Lumayan, termasuk besarlah, dan keras lagi…” lanjutnya sambil meremas jagoanku yang tegap berdiri menghadap langit, dengan urat-urat yang menyembul dari kulit yang tipis.
“Kamu akan tahu seberapa kerasnya dan kemampuannya nanti. Sekarang, kita mandi dulu ya?” ajakku.

Aku merangkul bahunya dan memboyongnya ke dalam kamar mandi. Setelah membasahi diri masing-masing, dia mulai menyabuniku. Tangannya yang mungil, lembut, menggerayangi di sekujur tubuhku, bahuku yang tegap, dada dan perutku yang kenyal padat berisi. Punggungku, pantatku yang ramping, pinggangku, pahaku yang kokoh besar, membuat jantungku berdegub tidak karuan, dan terasa aliran darah dalam pembuluh darahku seperti mau pecah! Apalagi jagoanku, sudah menegang mencapai puncak terhebat, kaku dan keras bagai tongkat kayu! Tegak berdiri bagai tiang listrik, benar-benar seperti ada aliran listrik, listrik dari tersambungnya kutub positif dan negatif dari tangan lembutnya Tina. Bagian yang paling lama dan paling teliti dia bersihkan adalah: (Anda pasti tahu) jagoanku! Penisku! Dielus-elus, digenggam, diremas, dikocok-kocok. Rasanya aku mau pingsan karena nikmat yang tak terlukiskan ini.

“Aakh!” aku menahan pekikan nikmat bercampur geli, terangsang, dan sakit karena ada bagian sensitif yang sedikit terlalu kasar disabuni. Mungkin saking semangatnya dia mengocok jagoanku.

Kini giliranku menyabuni tubuhya. Aku sangat menikmati menyabuni tubuhnya, Punggungnya kusabuni dengan posisi berpelukan sehingga payudaranya menempel erat di dadaku. Begitu pula sebaliknya, dadanya, lebih detailnya buah dadanya kusabuni dari posisi berdirinya membelakangiku, sehingga seperti aku memeluknya dari belakang. Kugerakkan tanganku memutar-mutar di payudaranya, dia tampak sangat menikmatinya.

Kujepit puting payudaranya diantara jari telunjuk dan jari tengahku, lepas karena licinnya sabun, jepit, lepas, jepit….. Seperti gerakan mencubit. Kukecup belakang telinganya, lehernya, dan bahunya. Dia tampak sangat menikmatinya. Ketahuan dengan sesekali dia mendesah “Shht.” sambil memejamkan matanya. Lalu tangan kiriku turun ke bagian surga mininya, melewati area bulu-bulu yang lembut, kuraih pintu gerbang surga mininya, kuelus-elus, tangannya menggenggam erat lenganku yang sedang bekerja mengelus, dan menekan-nekan pintu gerbang surga mininya.

Dia benar-benar tampak menikmatinya. Sesekali dia memalingkan wajahnya, mempelototi aku dengan genit dan berkata, “Ih, geli…” lalu tersenyum manis kembali ke posisi dimana aku bisa meneruskan kerjaanku yang memberinya kenikmatan, geli, terangsang, dan mungkin kadang-kadang sakit. Sengaja kukombinasi, supaya seru.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s