Selingkuh hati – 1

Setelah kejadianku beberapa bulan yang lalu (baca: Perselingkuhan istri muda 1-3), aku masih melakukannya beberapa kali sampai kami benar-benar menghentikannya. Walaupun demikian kami masih tetap berkomunikasi, walau dalam batinku kadang-kadang menginginkannya, aku tetap harus menghormatinya dan hubungannku hanya sebatas teman kerja biasa. Untuk itu aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannku untuk tidak sesering mungkin bertemu dengannya.

Di kantorku ada seorang temanku yang juga merupakan teman dekat Anita, Santi namanya. Mereka berdua bergabung dengan perusahaan kami berbarengan. Oleh sebab itu mereka berdua memang sudah dekat sajak pertama masuk kerja. Dibandingkan dengan Anita, Santi memiliki tubuh yang sedikit tinggi dan langsing. Berparas manis, malah aku terkadang memandangnya sebagai wanita yang cantik. Berambut sebahu dan bergelombang. Walaupun tidak memiliki buah dada yang besar, tetapi bila sedang berjalan, seksi sekali.

Sama dengan Anita, aku dengan Santi memiliki hubungan yang dekat. Malah aku rasa lebih dekat dibandingkan dengan Anita. Aku sering memijatnya di jam kantor, apabila Santi merasa pegal dan letih. Pada saat memijatnya itu, aku sering sekali memperhatikan buah dadanya yang tidak besar, tetapi ingin sekali aku menyentuhnya. Hmm..

Seringnya aku bercanda atau memijatnya, membuat suasana kantor aku menjadikan hal yang biasa untuk dilihat. Walaupun ada sorot-sorot mata tajam kecemburuan, terutama laki=laki yang menyukai Santi. Tetapi kami acuh saja, karena kami berdua menganggap hanya teman biasa dan tidak ada perasaan sesuatu apapun antara satu dengan yang lain. Sampai suatu saat..

Santi tinggal di kost sejak dia kuliah. Berasal dari NTB, dan orang tuanya masih tinggal di sana. Suatu hari, akhir pekan di bulan Mei lalu, aku di telpon untuk segera datang ke kost-nya di bilangan Menteng.

“Ada apa sih, San?” tanyaku.
“Tolongin Gua dong, Gua nggak bisa ngeluarin DVD dari komputer. Kemaren karena hang, Gua matiin aja. Tapi sejak itu dvd-rom Gua nggak bisa dibuka. Hari ini Gua harus balikin dvd ke rental” katanya kemudian.
“Emang kagak bisa dipaksa? Setahu Gua ada lubang kecil di depan yang bisa dicolok untuk bisa dibuka dengan manual, lubangnya kecil, kamu sodok aja pake lidi atau kawat kecil, atau klip kertas kamu lurusin dulu..”
“Woi.. Lu mau bantu Gua kagak? Gua nggak mau maksa dvd-rom Gua.. Ntar Gua kena pidana perkosaan Lu mau tanggung jawab?” jawabnya ketus.
“Sett, dah ni bocah!! Galak amat sih Lu??”
“Emang!!” katanya kemudian.
“Ya udah.. Gua kesana. Eh, depan kost Lu udah nggak ada beling kan? Kalo masih ada tolong sapuin dulu, yah? Ntar kaki Gua luka..” kataku.
“Emang Lu kesini nyeker, kagak pake alas kaki?? Cepet kesini, bawel!!”

Tak lama setelah itu akupun meluncur ke arah menteng.

Sesampainya di depan kost Santi, terlihat sepi sekali. Berkali-kali aku ketuk-ketuk pagar, tetapi nggak ada sahutan. Santi memang berada di lantai 2 dan posisi kamarnya ada di belakang, jadi wajar bila tidak mendengar ketukan aku. Tidak sabar karena matahari mulai terasa panas, aku telpon Santi melalui HP.

“Woi, San.. Gua di depan nih, bukain pagar dong?”
“Iyaa.. Sebentar, Gua turun” kata Santi yang kemudian langsung mematikan HP.

Tidak lama kemudian dia datang dan langsung membukakan pagar.

“Sepi amat sih, San? Pada kemana orang-orang?” tanya aku.
“Adaa, kok. Mungkin mereka nggak denger aja. Teman kost banyak yang keluar. Kalo si Mbak (pembantu) ada dibelakang” jawab Santi.

Setelah menutup pintu pagar, Santi masuk ke dalam diikuti aku dari belakang. Hari itu, Santi menggunakan celana pendek gombrong diatas dengkul dengan kaos warna putih. Aku terus mengikutinya sambil memperhatikan tubuhnya yang berjalan dengan gemulai, memperlihatkan lekuk badan dan bongkahan pantatnya yang bulat. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghampiri komputernya, dan membuka perlengkapanku yang sudah aku persiapkan dari rumah.

Akhirnya aku dapat mengeluarkan secara manual dvd dari dalam. Setelah aku hidupkan, aku mencoba dvd-rom untuk memastikan drive tersebut bisa tetap digunakan seperti semula. Setelah yakin semuanya beres. Akupun berniat pamit pulang.

“Emang ngapain Lu pulang buru-buru? Ngapel juga nggak, kan?”
“Iyaa, sih.. Gua cuma nggak enak aja lama-lama disini. Nggak enak sama temen-temen kos yang lain. Lagian ntar laki Lu dateng gimana?”
“Temen kost yang lain dilantai 2 pergi keluar.. Tahu kemana. Kalau cowok Gua lagi ke Medan.”

Konon dengan pacarnya ini Santi pernah hamil dan memiliki anak diluar nikah, karena hubungan mereka ditentang keluarga. Tetapi karena sesuatu hal, keluarganya menutupinya karena sampai saat ini mereka belum menikah. Walau mereka sudah pacaran sejak SMA.

“Mending Lu bantuin Gua bersih-bersih kamar..” kata Santi kemudian.
“Bersiin kamar Lu? Emang apanya lagi yang dibersihin?” aku menjawab sambil celingak-celinguk sekeliling kamar.

Memang banyak sekali barang-barang yang menumpuk di kamar kos Santi. Tetapi semua ditata apik, dan tidak ada sedikitpun kotoran yang terlihat. Akupun menghampiri kamar mandinya yang terletak didalam kamar. Itu pun terlihat bersih. Sementara Santi memperhatikan aku dengan heran.

“Apanya yang dibersihin sih? Oo, maksud Lu barang-barang ini mau ‘dibersihin’, dikeluarin gitu?” tanya aku kemudian.
“Bukan!! Maksud Gua Lu bantuin ngangkat ni barang-barang. Gua mau bersihin di belakangnya. Keliatannya sih bersih, tapi hanya di atas doang. Gua mau bersihin barang diatas lemari itu” Santi menerangkan sambil menunjuk barang-barangnya diatas lemari. Memang banyak sekali barangnya. Dan aku baru memperhatikan ada sedikit debu, dan sarang laba-laba disana.

“Woi..,. Ditanya malah bengong! Males yaah? Hahahaha..”
“Ayoo, laah.. nggak, Gua tadi baru liat ada sarang laba-laba.. Ternyata Lu penyayang binatang juga, toh? Ngerajutin sarang di atas lemari..”
“Cerewet amat sih!! Udah sekarang kita mulai..” kata Santi.
“Ehh.., disini ada minum nggak? Nanti kalo Gua haus gimana?” kata aku kemudian.
“Ya ada donk. Emang Gua kos di sini kagak pernah minum? Dikira Gua onta, cuma minum sekali terus tahan 2 hari puasa!! Di kulkas ada tuh.. Kalo mau, tapi self service yah!”.

Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan Santi, sementara Santi melotot menahan kesal melihat kelakuanku itu. Kamipun mulai bekerja. Sambil sesekali terbatuk-batuk karena debu diatas lemari ternyata banyak sekali, kami bergotong royong melakukan proyek pembersihan. Aku bertugas mengangkat barang-barangnya, sementara Santi yang bertugas membersihkan.

Di saat tertentu berulang kali buah dada Santi terlihat olehku. Yang membuat aku tambah bersemangat kerja, walau terbatuk-batuk diterjang oleh badai debu. Akhirnya setelah hampir satu setengah jam, kamipun selesai. Aku duduk di lantai bersandar pada tempat tidurnya untuk melepas lelah. Tak lama kemudian Santi membawa 2 gelas minuman, dan menyodorkan satu gelas kepada aku.

“Eh, katanya self service? Ini gelas isinya?” tanyaku.
“Minyak rem..!” kata Santi sengit.

Sambil tertawa aku menerima gelas yang disodorkan, minum sedikit, dan meletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian aku berdiri dan berjalan kebelakang kamar.

“Ehh, mau kemana Lu? Di kasih minum malah kabur” tanya Santi.
“Minjem kamar mandi Lu.. Gua mau cuci steam nih. Muka Gua lengket” Jawabku.
“Jangan ngabisin sabun Gua, yah? Kalo makenya banyak, pake sabun colek aja, atau pake yang di kotak plastik aja, ada rinso..”
“Terus, habis itu di gilis ama mesin, kan?!? Emang, muka Gua, muka dandang apa?”

Santi tertawa mendengar jawabanku, sementara aku mulai membilas mukaku kemudian membersihkannya dengan sabun muka milik Santi.

Setalah aku itu, aku kembali ke kamarnya. Aku melihat Santi sedang menonton DVD Lord of the ring yang tadi macet di komputernya. Mungkin karena takut macet lagi, dia menonto dengan player DVD. Saat itu Santi menonton sambil memijat-mijat kakinya sendiri.

“Kenapa kaki Lu, San?” tanya aku kemudian.
“Rada pegel nih..”
“Sini Gua pijitin.. Eh, mau nggak?”
“Ya, mau laa.. Pake nanya segala.. Dikantor aja mau, apalagi kalo lagi bener-bener butuh?”

Aku pun segera ambil posisi. Santi duduk dilantai dengan bersandar pada tempat tidur, sementara aku disamping kakinya. Sambil memijat, aku bertanya “Emang Lu belon nonton film ini?”
“Udah yang depan doang yang belakang-belakang belum, karena macet Gua belum sempet nonton lagi”

Kami tidak banyak bicara, terutama Santi karena asik menonton film yang diputarnya. Sesekali dia meringis menahan sakit pijatanku. Setelah kedua kakinya aku pijat, Santi minta punggungnya juga aku permak. Posisipun kami rubah, sekarang aku di belakang Santi. Sambil menonton acara film aku melakukan pijatan dari bahunnya, turun ke pinggang, kemudian ke bahu lagi. Terakhir baru dari bahu turun ke telapak tangan.

Karena yang ditonton sesi yang terakhir, film yang diputar ternyata tidak lama. Setelah Santi mamatikan DVDnya, dia mengubah channel lokal dan kembali menghampiriku. Kali ini dia tidak duduk di lantai, tapi di pinggir tempat tidurnya.

“Pijetin kaki Gua lagi doonk? Ntar balik ke punggung lagi yah?”
“Iyaa.. Tapi Lu jangan moloor.. Nanti Gua pulang gimana?”
“Emang kenapa, Lu mau Gua anterin pulang kerumah?”
“Kagaak.. Maksudnya, masa Gua ngucluk keluar kos sendirian..”
“Nggak laah.. nggak tidur kok. Udahlah.. Ayoo doonk” pinta Santi kemudian.

Akupun mulai memijat kakinya satu persatu. Sambil memijat dan dipijat, kamipun mengobrol masalah kantor dan pengalaman-pengalaman yang pernah kami lalui masing-masing. Sambil sesekali melihat acara di TV bila ada yang menarik. Karena posisi Santi duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki menapak di lantai sedangkan aku duduk di lantai menghadap kakinya, membuat aku pegal, aku membalikan badanku, untuk bersandar di tempat tidur. Dengan posisi itu aku bisa melihat TV tanpa memalingkan kepala, karena letak TV berada di depan Santi. Tetapi kondisi ini mengharuskan kepalaku di depan selangkangan Santi.

“Sorry San, rada pegel leher Gua. Nggak Papa kan? Kaki Lu di naikin di pundak Gua aja” tanya aku kemudian.
“Nggak Papa.. Malah enak bisa nindih pundak Lu.. Hehehe.”

Sambil nonton dan mengobrol aku pijat kakinya dari bawah keatas, kiri dan kanan. Entah sadar atau tidat, sesekali Santi merapatkan selangkangannya di belakang kepalaku. Tetapi karena aku nggak enak, aku nggak mau berbuat banyak. Takut Santi nggak suka dengan ulahku. Terakhir, setelah aku memijat dari atas dengkul hingga mata kaki, aku pijat telapak kakinya. Setelah selesai, aku kembali memijat keatas kedua kakinya, sambil membalikkan badanku, agar aku bisa memijat kedua kakinya dengan kedua tanganku. Begitu aku membalikan badan, aku melihat Santi sudah merebahkan badannya di tempat tidur.

“San, udah enak kakinya? Mau diterusin atau nggak?” tanyaku.
“Terusin dulu dong..?” pinta Santi.

Akupun meneruskan pijatanku hingga pangkal pahanya. Tetapi aku nggak berani terlalu lama berada disitu. Aku menaikkan tanganku hingga keperutnya, kemudian turun lagi ke kaki. Karena Santi diam saja, aku mulai memberanikan diri untuk memasuki celah kakinya yang terbungkus celana pendek. Itu pun nggak lama, takut Santi marah karena ulahku. Tidak terasa ulahku itu membuat aku panas juga.

“San, mau dipijat mana lagi?” tanya aku sambil memasuki celah celananya.
“Terserah.. Deh, yang mana?”
“Kalo yang tengah?” tanya aku dengan ceroboh, yang membuat aku menahan nafas menanti jawabanya..
“Terserah..”

Hawa yang panas diluar bertambah panas mendengar jawaban Santi demikian. Kedua tangankupun bertambah nakal memasuki celah celana pendeknya lebih dalam. Yang satu kearah bawah memijat bongkahan pantatnya, yang satu memijat pangkal pahanya didepan vaginanya. Sesekali aku melakukan elusan di vaginanya yang masih tertutup celana dalam dengan menggunakan kelingkingku.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s