The art of sex

Beberapa bulan lalu aku pergi ke rumah teman aku untuk meminjam catatan sejarah miliknya, karena aku selalu tertidur di kelas ketika pelajaran itu. Ketika sampai di tempatnya, ternyata teman aku tidak ada di tempat. Pada saat itu yang membuka pintu adalah Adik perempuannya (sebut saja Santi) yang juga satu sekolah dengan aku.

“Mau nunggu Kakak pulang apa ntar mau balik lagi neh?” tanyanya.
Setelah berpikir sebentar, aku menjawab “Gue nunggu dalem aja deh, capek bolak balik nih, mana mataharinya panas kayak gini lagi.”

Akhirnya aku masuk dan duduk di bangku teras rumahnya. 30 menit berlalu, teman aku masih belum kembali.

“Kemana sih ini anak, keluar enggak bawa HP lagi” pikir aku setelah sebelumnya mencoba menghubungi hpnya.

Karena merasa bosan duduk sendirian di luar, maka aku pun akhirnya masuk ke ruang tamu yang ternyata telah dihuni oleh 2 cewek teman Santi. Tidak berapa lama kemudian Santi pun keluar dari kamarnya dengan memakai rok mini.

“Sory yah enggak nemenin tadi, Gue tadi lagi mau mandi pas lo bel.” sapanya sambil duduk tidak jauh disampingku.
“Oh, Nggak apa-apa kok.” jawabku sekenanya sambil mataku terus melihat teman-teman Santi yang sedang asyik bermain video game.

Ketika aku sedang asyik-asyiknya membaca majalah, tiba-tiba saja Santi menyambar ke arah aku karena dia berusaha mengelak dari bantal yang dilempar oleh temannya (entah apa sebabnya, karena aku sedang konsen lihat majalah musik), secara spontan aku pun menahan tubuh Santi yang melompat ke pangkuan aku. Saat itu tangan kanan aku tidak sengaja menyentuh buah dada Santi, seketika itu pula Santi melihat ke arah aku dengan raut muka yang tiba-tiba serius.

“Waduh gila.. Bisa digampar nih Gue di depan teman-temannya” pikirku saat itu sambil siap-siap memejamkan mata menerima telapak tangan dari Santi. Ternyata tidak ada respon dari Santi, ketika aku kembali melihat wajah Santi, dia malah membalas tatapan aku dengan senyuman kecilnya yang manis.

“Kok enggak negor atau marah sih nih anak? Malah senyum. Jangan-jangan..”

Refleksi kejadian ‘kecelakaan’ tadi terus terulang-pulang di pikiranku.

“Weh.. Bengong lagi.. Napa loe? Gegar otak yah ketabrak sama Gue?” ujarnya sambil ketawa.
“Enggak kok, lagi bingung mau baca majalah apalagi nih.” jawabku sekenanya.
“Itu di bawah meja banyak majalah kok, pilih aja sendiri.” jawab Santi.

Akupun menunduk untuk mencari majalah di bawah meja tamu yang posisinya tepat berada di depan kami sambil mataku mencuri pandang ke arah rok Santi. Ternyata Santi sejak tadi terus mengamati gerak gerik aku, lalu secara perlahan dia mulai membuka kedua pahanya.

“OMG! Santi enggak pake celana dalam!” pikirku sambil secara spontan mataku melihat ke wajahnya, secepat kilat Santi mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya yang seksi sambil mengedipkan sebelah matanya seperti ingin mengatakan.

“Sstt..”
“Wah Adik teman Gue bitchy banget nih, berani banget di depan teman-temannya” pikirku dalam hati.

Kemudian akupun kembali duduk disampingnya tetapi kali ini aku duduk lebih rapat dari sebelumnya. Dengan memberanikan diri, aku letakkan tangan kanan aku ke atas pahanya dan ternyata Santi diam saja, malah dia masih bisa meledek teman-temannya yang sedang asyik bermain dengan permainan mereka sendiri. Secara perlahan aku mengelus pahanya yang dilanjutkan dengan menyusupkan tangan aku masuk ke dalam rok Santi.

“Wah.. Gila bulunya kayaknya pendek-pendek. Seksi..”

Santi pun segera mengambil bantal sofa dan menutup tangan aku yang sudah mulai masuk ke dalam roknya. Secara perlahan aku elus bibir vaginanya dengan lembut, terlihat raut wajah Santi sudah mulai berubah, wajahnya mulai merah. Belum puas dengan permainan di luar, akupun mulai memasukkan jari tengah aku ke dalam vaginanya untuk mencari clittorisnya dan tidak lama kemudian aku mulai memutar-mutar sambil menekan-nekan jari aku di atas clittorisnya. Pada saat itu, Santi mulai memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan suara lenguhannya yang tertahan karena takut terdengar temannya.

“Mmhh..”

Sedang asyik-asyiknya memainkan clitorisnya, tiba-tiba timbul dalam pikiran aku untuk mempermainkan Santi. Segera aku cabut tangan aku dari rok mininya, Santi pun kembali menatap wajahku dengan terheran heran. Akupun membalas tatapannya dengan tersenyum kecil. Santi tampaknya kesal dengan berhentinya permainan kami, akhirnya akupun pura-pura bertanya.

“Gue ke kamar Kakak loe aja deh ambil catatannya, loe tahu enggak dimana Kakak loe taro tas skulnya?”.
Seketika itu pula Santi kembali tersenyum binal sambil menjawab, “Tahu, yuk Gue temanin loe ambil” katanya sambil bangkit berdiri dan berjalan di depan aku menuju ke lantai 2 tempat kamar kakaknya berada.

Ketika kami sudah masuk ke dalam kamar kakaknya, Santi segera mencubit perut aku sambil berkata, “Jahat ih.. Bikin Gue horny kayak gini, menderita tahu!”

Baru saja aku mau menjawab sorry, tiba-tiba mulut aku disambar olehnya.

“Hhmm.. Mmhh.. Mmhh..” gumamnya.
“Ini cewek napsuan amat sih” pikirku.

Tidak lama kemudian Santi mendorongku ke atas ranjang dengan tatapan matanya yang liar, dia membuka kancing kemeja aku satu persatu dengan mulutnya dan tangannya membuka celana jeans aku yang sejak tadi menahan ‘Mr. P’ku. Ketika aku ingin membuka kaos ketatnya, dia malah menepis tangan aku, “Loe relax aja, let me do it by myself.”

Setelah aku telanjang bulat, Santi pun mulai mengulum ‘Mr. P’s eggs dengan napsunya.

“Gimana sayang? Enak enggak.” tanyanya sambil tangan kanannya mengocok ‘Mr. P’. Hanya orang tolol yang menjawab ‘Tidak!. “Enak say.. terus dong.. jangan berhenti..” jawabku dengan penuh napsu.

Sedang asyik-asyiknya Mr. P ku di oral oleh Santi, tiba-tiba dia berhenti dan menyentil Mr. P ku.

“Aduh.. Sakit tahu..” teriakku dengan suara tertahan.
Santi pun hanya tertawa sambil menjawab, “Siapa suruh bikin Gue horny di bawah tadi!”.
“Sekarang loe duduk aja, lihat Gue nari.” ujarnya sambil menyalakan music box di atas meja belajar kakaknya.

Tidak lama kemudian lagu trance mulai terdengar dan Santi pun mulai menari sambil melepaskan pakaiannya satu persatu seperti penari strip tease profesional.

“Aarrgghh.. Gue enggak bisa nunggu lagi nih, enggak tahan!” pikirku sambil berdiri dan langsung memeluk tubuh Santi yang masih asyik bergoyang. Aku angkat badannya yang seksi ke atas ranjang dan mulai mencium buah dadanya.

“Kali ini Gue bales loe!” pikirku.

Perlahan kupermainkan dengan memutar mutar lidahku di sekeliling puting susunya sambil berusaha tidak menyentuh putingnya.

“Uuugghh.. Enak.. Iya terus di situ say.. Ugghh.. Naik dikit lagi..” risihnya.

Risihannya tidak kuacuhkan sambil terus melanjutkan permainan lidahku tidak lama kemudian tampak Santi berusaha menggerakkan tubuhnya agar lidahku bisa menyentuh puting susunya, pada saat ini kugigit putingnya perlahan dan dia pun berteriak nikmat.

“Acchh.. Enak.. terus say.. Gigit.. Isep..”

Akupun meluluskan permintaannya. Setelah puas bermain dengan buah dadanya, akupun mulai turun kebawah dan tampak vagina Santi sudah banjir karena permainanku dengan putingnya tadi. Kali ini aku mulai memainkan permainan keduaku di depan bibir vaginanya, kusentuh bibirnya dengan hidungku sambil mencium dan menjilat bibirnya.

“Hhmm.. vagina loe wangi say.. Terawat lagi kebunnya.. Bikin Gue napsu nih say..” godaku.
“Ayo dong yang.. Jangan dilihatin doang dong..” jawabnya penuh napsu.

Akupun memenuhi kembali permintaannya dengan memainkan clittorisnya dengan lidahku.

“Mmhh.. Iya say.. Di situ.. Enak.. Ugghh.. terus.. Gue sudah mau keluar nih.. terus.. Uuugghh..” racaunya tidak karuan sambil kedua pahanya mulai menjepit kepalaku.
“Aacchh.. Gue keluar yang.. Uuugghh..” tampak keluar air awet muda dari dalam vaginanya.

Beberapa saat berlalu, aku pun mulai kembali mencium buah dadanya sambil memasukan Mr. P ke dalam vaginanya yang sudah licin. Perlahan lahan aku masukkan Mr. P.

“Mmhh.. Ketat banget nih..” ujarku.
“Uuugghh.. Lebih dalam lagi yang.. Masukin lagi.. Uuugghh..” lenguhnya tidak karuan.

Kudiamkan Mr. P ku di dalam vaginanya setelah mulai terasa tembok vaginanya menyentuh Mr. P ku, sambil terus kucium bibirnya.

“Lo cantik banget deh San”

Belum sempat dia menjawab, kudorong pantatku ke depan.

“Aacchh..” teriaknya.

Setelah itu kumulai permainan Mr. P ku. Awalnya kudorong perlahan namun pasti, semakin lama semakin cepat gerakanku..

“Acchh.. Aacchh.. Enak.. terus yang.. jugan berhenti. terus.. Ugghh..” racaunya sambil tangannya mulai mencakar punggungku.
“Aacchh.. Aacchh.. Iya.. terus.. Fuck me.. Faster.. Faster.. Aacchh..” teriaknya sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama pinggulku yang secara intensif terus menghujam vaginanya.
“Gue sudah mau nyampe nih.. Aacchh..” ujarnya.
“Gue juga nih.. Bentar lagi keluar nih.. Uuugghh..” jawabku menahan napsu.
Tidak lama kemudian, “Gue keluar.. Aacchh..” teriaknya puas.

Akupun segera mencabut Mr. P keluar dari. Vaginanya yang dilanjutkan dengan memompa Mr. P ku di atas perutnya dan..

“Oocchh.. Oocchh.. Huah..” teriakku puas.

Santi pun bangkit dan mengulum dan membersihkan sisa2x sperma Mr. P ku yang mulai melemas. Tidak lama kemudian, kami pun mulai membersihkan diri dengan tissue dan akupun mulai berpakaian.

“Kok udahan sih..” tanyanya.
“Ntar kalau Kakak loe balik gimana? Ntar aja lanjut lagi, kan masih ada hari esok.” jawabku sambil bercanda.

Santi pun mengerti dan mulai berpakaian. Ketika Santi turun, terdengar suara temannya menyindir.

“Nyari bukunya lama amat.. Nyari buku apa ngapain tuh..” diikuti suara tawa.
“Mau tahu aja loe nek!” jawab Santi sekenanya.

Akupun akhirnya menyusul turun sambil diikuti oleh lirikan teman-temannya dengan tatapan yang penuh curiga. Aku hanya bisa berlagak cuek bebek sambil berjalan ke arah pintu gerbang. Di depan pintu Santi meminta nomor HP ku.

“Kapan-kapan ke sini lagi yah.” ujarnya sambil mencubit perutku.
Setelah kuberikan nomor HP ku, akupun menjawab dengan nada bercanda, “Enggak mau ah..”
“Awas loe yah!” ujarnya.

Malamnya kamipun kembali melanjutkan permainan sex kami di dalam mobilku. Semenjak hari itu kami sering bermain di berbagai tempat, bahkan kami pernah bolos pelajaran dan bermain sex di dalam WC wanita sekolah kami.

Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s