Namaku Elang – 1

Namaku Elang. Usiaku saat ini awal tiga puluh. Bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. Aku punya pengalaman yang ingin kuceritakan dan persembahkan kepada pengunjung setia cerita dewasa.

Pagi itu awal Mei, pukul 7:00, aku mendapat telepon yang tak kuduga-duga di kantor. (Memang aku biasa datang pagi untuk menghindari macet).
“Hallo, siapa nih?”
“Hai, lupa sama aku ya?”
“Iya, siapa ya?”
“Coba tebak. Masih ingat Ilen?”
“Ilen?”
“Iya. Yang tinggal di Wastu Kencana, Bandung.”
“Oh, yang anak Inggris?”
“He eh. Tapi kamu bukan dia. Karena aku kemarin ketemu dia di Bandung.”
“Makanya. Tebak siapa aku. Ilen is the clue. Aku sobat baiknya. Anak Inggris juga.”
Aku mencoba mengingat-ingat suaranya. Tapi tetap saja tidak ingat. Iyalah, mana aku ingat anak-anak angkatan 91. Lain jurusan lagi.
“Sombong. Lupa ya sama aku?”
“Aku nyerah deh.”
“Ini Srida.”
Srida. Emh, aku ingat dia.
“Hai! Dimana kamu sekarang.”
“Di kantor. Aku kerja di Jakarta sekarang.”
“Dimana?”
Dia menyebutkan nama sebuah bank asing dari Amerika yang sangat terkenal.
“Hebat kamu. Boleh dong aku ambil kredit? Di bagian apa kamu?”
“Cuma di bagian Telemarketing. Tapi lumayan deh.”
“Dapat teleponku dari Ilen ya?”
“He eh. Tiap pagi kutelepon dia. Dari kantor.”
“Enak banget. Di kantorku, telepon lokal saja dibatasi.”
“Iya. Di sini sih mau interlokal berjam-jam juga boleh. Khan bagian tele, apalagi aku dateng pagi banget. Maklum, numpang kakak.”
“Sama. Emh, senang sekali dapat telepon dari kamu.”
“Lang, tidak nyangka kamu ada di sini juga. Kemarin-kemarin sih aku ada lihat kamu di TV. Hebat kamu.”
“Biasa saja. Lagian kenapa baru sekarang telepon?”
“Barusan aku dapet dari Ilen.”
“Sering balik ke Bandung?”
“Tiap minggu. Jumat pulang, Minggu atau Senin pagi kembali ke Jakarta.”
“Gila. Nggak capek?
“Abisnya bosen. Tidak punya teman sih.”
“Sekarang khan ada aku.”
“Iya deh.”

Kami pun berbincang di telepon sampai pukul 8.00. Saat dia harus benar-benar bekerja. Sedang jam kerja kantorku pukul 8:30. Kami bicara banyak. Soal pengalaman masa kuliah dulu. Kenanganku muncul setelah telepon ditutupnya.

Srida. Gadis itu teman kuliahku di Fakultas Sastra. Hanya kami beda jurusan. Aku di Perancis, sedang dia di Inggris. Terus terang dulu aku naksir dia. Anaknya manis, pendiam, berkulit putih. Dengan berat dan tinggi badan proporsional. Wajahnya mirip Shinta Bella dimixed dengan Cornelia Agatha. Pokoknya oke banget. Dia sejurusan dengan Ilen, teman baikku waktu Opspek dan telah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dulu aku pernah minta tolong pada Ilen untuk membantuku mendekatinya. Tapi aku hanya diberikan telepon dan alamat Srida saja. (Nantinya aku tahu kalau Ilen itu menaruh harapan kepadaku. Pantas Ilen ‘dulu’ kayaknya menggodaku setiap kali main ke kostku). Dulu aku pernah menelepon Srida beberapa kali. Biasa, merayu. Tapi dia tidak bergeming. (Nantinya aku juga tahu kalau dia mengira aku tidak serius, dan menyangka aku playboy tengil. Padahal suwer; dia benar! Hahaha!). Ya sudah akhirnya kami nggak jadian. Aku tetap sebagai playboy, dia setahuku pacaran dengan anak angkatan 90.

Sebenarnya aku waktu kuliah di Sastra itu sudah kerja di perusahaan familiku, asli karena kebisaanku, bukan KKN dan juga kuliah di D3 Tehnik Informatika swasta. Iseng dan penasaran saja untuk kuliah di dua tempat. Apalagi di Sastra khan rata-rata banyak ceweknya. Jadi ya itu, playboy kampung ini makin betah saja. Di kampus, aku cukup populer dengan panggilan Abang. Iyalah, aku tua-an, sudah kerja, dan berasal dari Kalimantan. Karena sudah kerja, sudah punya cukup uang. Makin banyak saja cewek-cewek yang lengket denganku. Credit card can buy everything, man. Utamanya pada tahun awal 90-an. So, aku bisa dengan mudah pilih-pilih cewek. Dan lagi tampangku tidak malu-maluin deh buat digandeng. Tidak sombong, korbanku sudah banyak! Aku jahat ya. Tapi akhirnya kutakluk juga dengan seorang gadis, adik tingkatku. Yang akhirnya menjadi istriku tercinta.

Aku ngelantur ya? Bosen? tidak apa-apa. Aku bingung juga buat cerita. Aku bukan pengarang sih. Aku cuma mencoba menceritakan ulang pengalamanku.

Aku lanjutkan ya.
Sejak pagi itu. Srida menelponku paling tidak tiga kali sehari. Pagi-pagi seperti tadi, siang saat makan siang. Dan sore sebelum pulang kantornya. Rata-rata tiap kali menelepon satu jam sampai satu setengah jam. Gila ya? teman-teman kantorku juga bingung. Kenapa aku jadi males makan keluar pada jam istirahat. Aku pasti hanya nitip, atau pesen delivery saja. Mereka mulai curiga. Apalagi atasanku, perawan(?) tua yang ceriwis dan nyinyir. Beberapa bahkan langsung menebak aku selingkuh. Ooops, lupa ceritain kalau aku itu sebenarnya sudah tunangan dengan Venus.

Aku senang mendengar suara manja Srida di telepon. Sungguh. Dia sudah berubah. Bukan Srida yang dulu selalu ogah-ogahan menerima telepon. Yang tertutup dan pendiam. Dia total berubah. Dia bahkan memanggilku sayang. Dan tak malu-malu menyambut rayuan dan gurauanku. Bahkan yang agak-agak miring. Kadang aku berpikir ini semua karena kisah lama yang terulang. Rasa cinta yang mendadak datang kembali. Gila, kenapa dia muncul sekarang. Saat tanggal pernikahanku sudah ditetapkan. Sering juga aku merasa ini hanya perasaan senang, mendapat kembali kawan lama.

Bosen? tidak apa-apa kalau pembaca bosen, silakan lewati saja cerita ini. Lucunya, sampai berhari-hari kita telepon-teleponan saja. Aku sibuk, dia tidak bisa keluar kantor. Padahal jarak kantorku dengan Kuningan (kantor Srida) tidaklah bisa dikatakan jauh. Paling setengah jam pakai mobil. Srida selalu mengajak bertemu. Tapi karena rasa cintaku pada Venus (tunanganku) aku selalu menolak. Srida belum kuceritakan kalau aku sudah bertunangan November 1997 lalu. Teleponnya, selain ke kantor juga sekali-sekali ke rumah atau ke HP-ku. Tapi tak pernah lama. Paling hanya menyampaikan kesepiannya di Jakarta yang tanpa teman itu.

Saat kerusuhan 14 Mei, aku terpaksa menginap di kantor. Srida beberapa kali menelponku, mengatakan dia akan pulang cepat. Dan kalau bisa akan pulang ke Bandung. Srida akan kembali hari Senin, sebab kantornya memutuskan untuk meliburkan karyawannya.

Senin tanggal 18 Mei sore aku mendapat telepon dari Srida. Dia mengatakan sedang berada di RS Harapan Bunda. Ternyata keponakannya diopname karena menderita kelainan pada jantungnya. Dia memintaku untuk menjumpainya di sana.

Mulanya aku tidak mau, sebab setelah beberapa hari tidak mendapat teleponnya, walaupun ada rindu, aku sadar kembali bahwa aku telah punya tunangan dan akan menikah dalam beberapa bulan. Namun akhirnya rayuannya dan rasa penasaranku membuat luluh tekadku. Sepulang kantor, aku pun menuju ke RSHB. Sempat celingukan karena sedikit lupa akan rupa dan sosoknya. Kucoba hubungi HP-nya sedang dipakai. Akhirnya aku melihat seorang gadis sedang duduk di ruang tunggu apotik. Ah itu dia. Gadis itu pun melihatku. Tersenyum manis. Aduuh, cantiknya. Benar, wajahnya tambah manis, body-nya lebih kurus dari yang kuingat, namun sangat montok. Tak puas-puas kupandangi dia.
“Elang!” Dia memanggilku.
“Hai!” Hanya itu yang sanggup kukatakan.
Dengan segera dia berdiri menyongsongku. Menyalamiku dan menyodorkan pipinya. Ah, aku cukup kaget. Perasaan dulu dia nggak begini. Mungkin karena dia merasa telah akrab kepadaku melalui telepon-telepon kami. Kupandangi dia lekat-lekat. Tubuhnya hanya dibaluti kaos tipis merk Playboy berwarna putih, sedang bawahannya dia memakai rok pendek yang menampakkan kakinya yang bagus dan panjang mulus itu. Aku dapat melihat sekilas bra hitam yang dipakainya, menonjolkan sepasang buah dada yang menantang, ranum.

“Lama ya, nungguin aku?”
“Nggak juga. Kamu tidak berubah banyak, Lang. Hanya tampak lebih matang.”
“Kamu yang berubah.”
“Apanya?”
“Semuanya. Lebih, apa ya?” aku sempat terdiam, “Menggiurkan.” Dia hanya tersenyum.

Dia mengajakku duduk, kemudian mulai bercerita soal keponakannya yang masih balita itu. Aku mendengarkan sambil sesekali menatap erat wajahnya. Dalam hati, aku harus mengakui kalau dia tambah cantik. Sungguh! Rambutnya yang ikal dipotong sebahu. Modern style. Tampaknya dia sadar kalau kupandangi.

“Hei!” sentaknya.
“Apaan?” Tanyaku.
“Matamu itu.”
“Salah sendiri. Kenapa kamu tambah cantik.”
“Sudah merayunya. Biasanya cowok kalau habis merayu lalu minta yang nggak-nggak.”
“Tapi kalau aku yang minta diberi khan?”
“Mintanya apaan dulu.”
“Disun.”
Dia mencubitku.
“Macem-macem saja. Entar pacarmu marah. Siapa tuh, si kaca mata itu?”
Aku cuma diam, lalu sadar, dia mesti tahu tentang Venus.
“Venus? baik.”
“Nah itu. Mending kita telepon Ilen sekarang.”
“Yuk!” Kugaet tangannya.

Sambil berjalan tanganku beralih, memeluk pinggangnya yang ramping. Dia tak menolak. Tanganku tetap di sana, bahkan saat menelepon Ilen dari telepon kartu. Iyalah, kalau pakai HP bisa berapa? Interlokal khan kalau ke Bandung. Itu saja ngabisin kartu teleponnya sekitar 40 pulsa dan punyaku yang masih 230-an. Masalahnya, Ilen itu bawel banget orangnya.

Sehabis itu kami makan malam di kantin RS. Aku sebelumnya mengajak Srida ke caf atau restoran, tapi dia menolak. Lain waktu saja, katanya. Kami bicara banyak. Tentang jalan hidup yang kami tempuh. Tentang masa lalu. Terkadang jemarinya kugenggam, kuremas. Dia tak sekalipun menghindar. Tentu saja aku tak cerita kalau aku sudah tunangan. Setelah malam itu, kami sering jalan berdua. Terkadang aku menemaninya di RS. Untungnya tunanganku begitu percaya kepadaku, dan memang tidak terbiasa menelponku kalau tidak penting-penting benar.

Kami saling berbagi hadiah. Dia memberiku bermacam barang yang berbau Coca Cola, karena dia tahu aku maniak dengan merchandiser dari perusahaan minuman tersebut. Ada-ada saja surprise darinya. Aku bahagia bersamanya. Aku pun demikian tidak lupa akan maniaknya dia dengan tokoh Tazmania dari Warner Bros.

Tapi hubungan kami hanya sebatas makan, jalan, nonton, berpegangan tangan, peluk pinggang, dan cium pipi saja. Bosenin kali ya? Tapi ya, aku cukup senang.

Sampai akhirnya di bulan Juni. Aku ingat benar tanggalnya, tanggal 13. Saat itu aku di Bandung, dalam rangka memperingati setahun wafatnya ayah Venus, tunanganku. Juga ada tugas kantor. Srida sudah ada di Bandung sejak kemarin (aku yang mengantarnya ke Gambir). Dia tahu aku akan ke Bandung. Di tengah acara peringatan, HP-ku berbunyi. Dari layar, kutahu dia yang menelponku.
“Hai. Ntar aku telepon. Aku sedang di acara temanku nih”, kataku pelan.
“Nggak usah. Gini saja. Kutunggu di Dago. Anak-anak bikin warung tenda.
“Namanya.. (kurahasiakan). Aku tunggu.”
“Oke.” Telepon pun kututup.
Venus melihatku, bertanya, mungkin curiga. Kujawab saja anak-anak angkatanku mengajak reuni. Venus percaya saja. Dan memang dia tidak pernah mau mencampuri urusanku dengan teman-temanku waktu kuliah dulu. Makanya setelah acara keluarga selesai, aku segera ke Dago pakai taksi. Tidaklah sulit mendapatkan warung tenda yang dimaksud. Di sana sudah ada Ilen dan anak-anak Inggris lainnya. Setelah sekitar dua jam di sana, Ilen minta diantar pulang. Aku dan Srida yang mengantar. Di rumah Ilen, Ilen menggoda kami habis-habisan (sesekali dia menyinggung soal Venus). Aku dan Srida hanya bisa seperti anak SMA, tersipu malu. Segera saja kuajak Srida pulang. Dan gilanya, Srida mengatakan ingin jalan kaki menuju rumahnya. Aku mengira dia bercanda. Gila! Jarak Wastukencana (rumah Ilen) dengan Gatot Subroto (rumahnya) khan lumayan jauh. (Tanya deh sama yang mengerti Bandung). Tidak tahu berapa km, pokoknya jauh deh. Tapi Srida meyakinkanku, katanya dia ingin menikmati malam ini bersamaku. Banyak pula hal yang ingin dibicarakannya. Ya sudah, kujabanin saja. Emang banyak yang diceritakannya. Masa lalunya, kisah cintanya, rahasianya, keluarganya. Sementara aku hanya mendengar dan sesekali menanggapi pertanyaannya. Aku juga berbohong padanya (soal Venus, apalagi).

[Info saja nih; waktu aku mulai jalan dengan Venus, aku tidak pernah berlaku ‘curang’, sebelumnya aku layaknya buaya yang tidak pernah menolak bangkai. Teman-teman Venus sendiri pun protes saat tahu Venus jalan denganku (some of them was my victims, honestly), tapi Venus tak terpengaruh. Mungkin karena itu aku bisa awet dengannya dan tidak ‘obral’ lagi. But, dengan Srida ini aku tidak tahulah. Why?].

Semakin dekat rumahnya, kami berjalan semakin pelan. Satu setengah jam ada mungkin, kami berjalan-jalan. Karena Swatch di tanganku sudah menunjuk angka setengah satu pagi. Selain pelan pun, kami semakin rapat. Dapat kucium lembut parfum yang dipakainya, yang keluar dari tubuh yang terbalut stelan hitam-hitam dan jaket Levi’s-ku. Tubuhnya lembut dan hangat dalam rangkulanku. Tapi ya, sekali lagi, hanya sebatas rangkulan. Bosen, ya? Biarin. Lima ratus meter dari kompleks rumahnya, dia mengusulkan untuk menunggu taksi. Aku pun mengiyakan. Dari pada entar sendirian, mending sekarang. Taksi segera didapat. Kami pun naik. Sudah hampir masuk ke kompleksnya. Kami berpandangan. Entah bagaimana bibir kami sudah saling mendekat, sebelum akhirnya bersentuhan.

Lembuut sekali. Dan aku yakin mata si sopir meloncat keluar melihat kami dari spion. Kami tak peduli. Terus kukulum bibir ranumnya. Dan sungguh, aku telah sekian lama merindukan bibir madu ini. Perlahan tapi pasti mulailah lidah kami bermain, saling memilin. Damn! It was the best kiss I ever had!

“Pak. Rumahnya yang mana?” Dengan malu-malu, Pak supir tua itu bertanya. Ooops! Kami berdua tersentak. Lalu saling pandang. Tersenyum. Malu-malu.
“Gimana Srida?” Tanyaku.
“Terserah kamu.” Jawabnya dengan suara serak.
“Emh, jalan terus saja Pak”, kataku.
“Terserah Bapak kemana, keliling Bandung juga boleh. Oh, putar-putar deh.”
Si sopir itu pun manut.
Aku memegang tangan Srida. Dia memandangku, kemudian menunduk. Kupegang dagunya yang indah. Kusodorkan wajahku. Perlahan dia mendorongku menjauh. Mukanya mengarah ke sopir itu.
“Biarin.” Bisikku.

Lalu ciumanku pun kulanjutkan. Srida pasrah. Sopir itu pun tahu diri, tidak plirak-plirik lagi. Kami berciuman dengan penuh perasaan [swear!]. Menikmati setiap helaan nafas dan kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh kami. Kurengkuh dia dalam pelukan. Perlahan kurasakan kejantananku mulai bereaksi. Terasa hangat sekali di bawah perutku. Tanganku pun sudah beroperasi di punggung Srida. Perlahan turun, sampai di bokong yang indah dan hangat. Kuremas perlahan sepasang bongkahan itu silih berganti. Srida mengerang perlahan. Tubuhnya yang indah meregang. Bibirku pun tidak lagi hanya sekedar menikmati tiap lekuk bibirnya, tapi telah berpindah, ke pipi, pelipis dan keningnya. Kemudian kembali ke bibirnya. Kurasakan tangannya meraba-raba punggungku, dan kemudian ke arah bokongku. Aku menekan tubuhnya dengan tubuhku. Bibirku turun ke dagunya, menggigit lembut. Srida merintih. Perlahan bibirku turun ke lehernya, sedang tanganku beralih ke dadanya. Meraba, meremas, dan memilin dari balik bajunya. Bajunya yang dari bahan satin menambah sensual bentuk payudara Srida. Bibirku terus menciumi leher gadis itu. Lidahku menjilati kejenjangannya. Seperti musafir yang kehausan. Kuhisap, kujilati, kutelusuri lehernya. Srida tambah tak teratur gerakannya. Jemarinya menarik rambutku, nyaris menjambaknya. Aku yakin dia sudah benar-benar terangsang. Tanganku pun turun, membelai perutnya yang datar. Bermain-main sejenak di situ. Lalu dengan pasti menyentuh kehangatan di antara kedua pangkal pahanya. Sebentuk daging lembut yang ditutupi celana dari bahan sandwash itu memancarkan hangatnya. Srida melenguh perlahan. Oh, aku sungguh menikmati erangannya itu.

Lalu tangan kananku menuju bagian belakang tubuhnya. Dari sela-sela celananya tanganku masuk, meraih. Pertama-tama kurasakan pinggiran celana dalamnya yang berenda. Kejantananku seolah berontak. Sesaat kemudian jemariku telah berada di dalam panty Srida. Oooh, lembutnya tubuh gadis ini. Bentuknya bagus sekali. Terasa lembut menyentuh tanganku yang kasar. Srida mengerang, kali ini dia menggigit leherku untuk menekan suaranya. Kuremas-remas daging lembut itu.
“Oh, Elang. Aku cinta padamu.” Tubuhnya meregang kembali, seperti kucing selepas tidur.
Aku sudah tidak sabar. Tanganku kutarik keluar. Meraba-raba hingga ke dadanya. Perlahan membuka dua kancing atas baju Srida. Nafas gadis itu terengah-engah, seolah meronta, ketika ujung jari-jariku menyentuh tepi bra yang dikenakannya. Nafasku pun sudah tak beraturan. Secara naluriah, tanganku pun mencoba meraih payudara kanannya, terasa nikmat dan hangat ketika jari tengahku menyentuh puting susunya. Oh, sempurnanya tubuh ini. Saat bibirku perlahan turun ke arah payudaranya, tiba-tiba kedua tangan Srida mendorongku. Lalu meraih bajunya yang telah kusut masai.
“Berhenti, Lang.” Parau sekali suaranya, “Jangan. Tidak di sini.”
Aku pun tersadar. Astaga. Benar-benar naluri. Perlahan Srida mengancing kembali hemnya. Aku pun mengusap bibirku, menghilangkan goresan merah dari situ. Masih kurasakan manis bibir dan lipstiknya di situ. Aku tersenyum, Srida juga.

“Maaf. Aku terbawa perasaan”, bisikku.
“He eh”, angguknya.
Lalu kami baru ingat kembali. ‘Ya ampun kami di dalam taksi’.
“Dimana kita, Pak?” Tanyaku ke sopir.
“Di Braga, Pak”, jawabnya, kentara sekali malu-malu.
“Kita kembali ke tempat tadi Pak.” Kulirik argo taksi GR itu sudah 14 ribu. Gila. Berapa lama ya Pak Tua ini dapat tontonan gratis. Aku agak menyesal juga.
“Baik Pak.”

Lalu Pak Tua itu pun mengantar kami ke kompleks perumahan Srida. Atas permintaan Srida, kami hanya mengantarnya di depan kompleks (ngertilah, Srida tidak mau sopir itu tahu rumahnya). Lalu aku pun pulang ke hotel Horison.

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s