Namaku Elang – 3

“Bang.”
Suaranya memanggilku serak. Kakinya melangkah menuju bath tub. Masuk ke dalamnya. Mendekatiku. Sinar lampu kamar mandi menimpa tubuhnya yang polos. Memantulkan pesona kemungilannya. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya dapat memandanginya. Wajahnya, rambutnya yang sebahu, hidungnya yang bangir, matanya yang kelam. Lalu ke lehernya. Terus ke dadanya yang penuh, aku tidak tahu ukuran pastinya, sebesar bola baseball kukira (ukuran berapa, tuh?). Putingnya berwarna merah muda, menyembul keluar seperti karet penghapus. Perutnya rata, tidak ada lemak di situ. Ke bawah pusarnya terdapat sekumpulan anak-anak rambut, membentuk segitiga kecil yang gelap. Kakinya yang langsing, betisnya.

Wangi tubuhnya mengambang di udara. Kejantananku tambah mengeras. Ugh! Kakinya melangkah ke arahku perlahan. Tiba di hadapanku, dia meraih wajahku. Mengelus pipi, turun ke leherku. Aku mengerang dibuai jemari lentiknya. Ugh! Tangannya pindah ke dadaku, meraba dan menyentuhnya, bermain-main di bulu dadaku. Memainkan puting susuku. Aku menghela nafas. Ugh! Perlahan bibirnya tiba di pentil susuku, mengecupnya. Lalu lidahnya menjilati, menghisap, menggigit pelan. Aku melenguh. Ugh! Wajahnya yang hanya sampai di dadaku, bermain-main di sana selama beberapa saat. Tanganku yang tadi menutupi kelelakianku, sekarang perlahan meninggalkannya. Yang kiri meraih belakang lehernya, sedang yang kanan membelai punggung dan bokongnya naik turun. Lalu keduanya meraih pantatnya. Meremasnya. Mencubiti perlahan. Mengusapnya memutar. Pantatnya sungguh ranum. Terdengar rintihan kecil, keluar dari bibirnya yang mungil.
“Uuh, Elang.”
“Teruskan, Len. Mengeranglah.”
Ilen mengerang lembut, nafasnya berpacu. Aku pun demikian. Setelah beberapa lama, lidah Ilen menyusuri dadaku, menuju ke bawah. Lidah yang dingin dan lembut itu memutari pusarku. Menggelitik-gelitiknya. Tak sadar aku menjambak rambutnya, tak tahan dengan sensasi yang diberikannya. She’s really like a pro! Tangannya yang masih di dadaku, melakukan gerakan menyentuh, mencubit, meremas, setiap lekuk tubuhku. Jemarinya yang mungil meremas kedua belah pantatku, kemudian meraih kejantananku. Aku mengerang, berteriak tertahan. Ugh! She’s unbelievable.

Jemarinya yang lembut memegang kejantananku dengan hati-hati. Meraba setiap lekuknya. Ilen menggunakan kedua tangannya untuk mengenali sudut demi sudut, memegangnya dengan penuh perasaan. Matanya terpejam. Walaupun dipegang dengan kedua tangannya, ujung kelelakianku masih keluar. Dengan ibu jari kanannya, dia melakukan gerakan memutar di situ. Jiwaku terbang. Ugh! Lalu wajahnya semakin turun. Dengan mata terpejam, Ilen menjilati kepala adikku. Perlahan, dia memasukkan ke mulutnya. Terasa hangaat sekali. Aku merasakan keringatku keluar, disapu air hangat dari pancuran. Ugh! Dengan ahlinya Ilen memaju mundurkan kepalanya, memutar lidah di dalamnya, menggelitik kelelakianku. Setengah saja yang dapat masuk ke mulutnya. Kejantananku dikeluarkannya, lalu dikecupnya perlahan-lahan. Aku merintih. Ini sensasi yang luar biasa.

Sesaat kemudian aku merasakan dorongan dari daerah pangkal kelelakianku. Aku lalu berjongkok, menatapnya. Ilen tersenyum. Matanya redup. Lalu kucium bibirnya. Kuhirup nafasnya. Lidahku bermain di rongga mulutnya. Ilen membalas. Damn, she’s a great kisser too. Lidah kami saling pilin di dalam mulutnya, lalu di mulutku, mencari setiap kenikmatan yang dihantarkan indera pengecap itu. Tanganku pun bermain ke payudaranya. Meremasnya, memilin putingnya, satu persatu. Tubuh Ilen meregang. Dia mendesis. Kami berdua berdiri tanganku melingkarkan ke pinggangnya. Merengkuhnya, membelit tubuh mungilnya. Kuangkat tubuhnya. Kakinya menapak di pinggir bathtub. Kepalaku langsung berhadapan dengan buah dadanya. Kuciumi dengan lembut, kujilati belahan dadanya. Lalu hidungku kutekankan di situ. Kuhisap wangi tubuhnya. Sementara tanganku meremas-remas bukit pantatnya. Air pancuran masih menderu. Kucucup puting susunya, yang mengeras, berdiri tegak mengacung. Dengan lidahku kusentil-sentil benda elastis itu. Ilen makin meronta. Ekstase tampak pada wajahnya. Matanya telah kehilangan bintik hitamnya, kuku tangannya mencakar punggungku. Tangan kiriku beralih dari pantatnya, menuju kerimbunan rambut di pangkal kedua kakinya. Ilen menggelinjang, ketika jari-jariku yang kasar menyentuh sebentuk daging kecil di situ. Daerah kewanitaannya telah basah. Terus kugosok-gosok clitorisnya, terkadang memilinnya dengan telunjuk dan ibu jariku. Sementara payudara kanannya kugigit. Ilen menjerit penuh nafsu.
“Ah.. Elang. Abang. Nikmatnya.. Augh.”
Tangannya menggapai-gapai. Yang kiri memegang palang besi tirai penutup, sedangkan yang kanan meraih kejantananku. Mengusapnya, mengocoknya. Aku pun merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Jari tengahku yang berada di daerah rahasianya mulai merasuk, menuju ke dalam lubang kenikmatannya. Ilen menjerit, lalu ditahannya dengan menggigit bahuku. Jariku maju mundur di situ. Lobang sempit itu bertambah basah. Jari tengahku berputar-putar di dalamnya. Ilen menegang. Badannya mengejang. Kurasa dia telah orgasme.
“Elang. Aku tak tahan lagi.”
“Shh, tenang Ilen. Nikmatilah. Bukannya ini yang kau inginkan.”
“Iya, iya.. Elang. Cumbui aku.”
Kuremas pantatnya, dan Ilen pun terkulai lemas.
“Masukkan punyamu, Elang.” Bisiknya meminta.
“Kamu yakin?”
Anggukannya menjadi jawaban.
Aku pun memegang kejantananku, mengarahkannya ke selangkangannya. Ilen menjerit kembali, saat kepala senjata andalanku itu menyentuh vaginanya. Kugosok-gosokkan sesaat di dinding luar kewanitaan gadis itu. Dia meronta.
“Masukkan Elang. Masukkan.” Teriaknya serak.
Kedua tangannya memegang palang besi di atas kepalanya. Aku meraih pinggangnya. Lalu dengan perlahan, kuturunkan tubuhnya. Kejantananku merasakan kehangatan kewanitaannya untuk pertama kali. Ilen mendesah, lantas kemudian melenguh ketika badannya yang ringan itu kugerakkan naik turun. Kakinya yang tadi terkangkang lebar, saat ini telah melingkar, mencengkeram pinggangku. Terus kumainkan kelelakianku di dalam vaginanya yang sempit dan halus. Lalu mulai ada rasa memijat yang dirasakan oleh batangku.
“Oooh.. Oah, kamu luar biasa Ilen. Oooh. Ugh!”
Ilen pun mengeracau, menikmati kekekaran yang menerobos lubang kenikmatannya.

Sampai akhirnya kurasakan tekanan kakinya menjadi lebih bertenaga. Membuat aku tak dapat lagi menaik turunkan tubuhnya. Dia telah mencapai langit kenikmatan, pikirku. Kubiarkan tubuhnya terkulai. Kugendong dia. Air pancuran yang mengalirkan air panas kumatikan. Tinggal air dingin yang menyirami kami berdua. Kutarik keluar kejantananku, selintas membersihkannya dengan air pancuran. Ilen menatapku tersenyum.
“Kamu memang hebat, Dayak!”
Aku cuma tersenyum.
“Mari. Puaskan dirimu. Perkosa aku”, katanya.
“Kamu belum lelah?”
Dia hanya menggeleng dan tersenyum. Kusodorkan lagi kelelakianku di dalam relung kewanitaannya. Masih sempit seperti yang tadi. Kuhunjamkan senjata lelakiku itu. Perlahan-lahan, kemudian semakin cepat, semakin cepat. Ilen telah mematikan pancuran. Dingin, katanya. Saat baru kudengar bunyi yang khas dari suatu persetubuhan. Bunyi berkecipak kejantanan dikulum kewanitaan. Ah, kunikmati alunan itu. Kuhayati setiap tusukan dan tarikan, kuhayati erangannya, kuhayati denyut demi denyut yang datang silih berganti, kuhayati pijatan dari dinding kewanitaannya meremas-remas kejantananku. Ugh!

Sekian menit berlalu, Ilen telah menjerit dan mencakarku lagi. Tanda dia mencapai orgasme yang kesekian. Ia menjerit-jerit, memanggil namaku. “Elang. Terus Elang. Terus. Tikam aku, robek aku. Perkosa aku!” Ceracaunya. Aku semakin terangsang dengan pekikannya. Layaknya pekikan perang pemberi semangat kepada para ksatria. Tusukanku pun semakin kencang. aagh! Tiba-tiba kurasakan desakan yang sangat hebat dari arah kantung kelaminku. Aku tahu ini saatnya. Kutarik kejantananku. Ilen sepertinya mengerti aku akan sampai dalam pendakian ini. Dia mengarahkan senjataku ke wajahnya (aku sampai curiga dia kebanyakan nonton VCD porno), menunggu semburan dari kepala kejantananku. Dan, seumpama tendangan David Beckham, sumber kehidupan itu pun kulepaskan. Tepat di bawah matanya. Beberapa kali terlontar, mengotori wajah Ilen. Dengan lagak seorang profesional, Ilen menjilatinya.
“Jangan.” Cegahku.
“Biarin. Aku suka. mmh. Luar biasa Elang.”
“Kamu juga.”
Ilen menjilati sisa-sisa cairan putih kental yang menetes dari kepala kemaluanku yang sekarang tidak terlalu tegang. Kulihat urat-urat di sekitarnya mulai kembali berukuran biasa, tidak sebiru tadi.
“Kamu memang hebat. Pantes. Pantes Srida tergila-gila. Pantas dia sampai dua kali orgasme.”

Mendengar nama Srida disebutkan, hatiku berdebar lagi. Sudah gila apa aku, ya? Kemarin Srida. Sekarang lebih parah lagi, dengan Ilen. Kemarin tidak sampai sejauh ini. Kemarin karena cinta, sekarang? Biarkanlah! Ini semua gara-gara Srida! (I think I have to blame it on someone) Elang! Dasar kamu. Aku memaki diriku. Teringat Venus yang dalam hitungan hari lagi akan menjadi istriku. Dengan Venus saja kau belum sejauh ini. Sekarang? Dengan orang yang telah kau anggap sebagai adik sendiri. Dasar! Laki-laki tengil, badung! Kau memang petualang!

“Ilen. Kamu nggak menyesal?”
“Kenapa. Toh aku bukan perawan.”
“Tapi khan..”
“Jangan takut. Aku tak menuntut apa pun dari kamu, Bang. Aku senang. Dan jujur, sekian lama kunantikan saat seperti ini. Apalagi mendengar ceritamu dengan Srida. Aku boleh iri, khan. Jujur. Waktu sore, mandi pertama aku sudah masturbasi membayangkan kamu.”
“Aku tahu.”
“Lho?”
“Bau yang khas itu tercium di kamar mandi, sayang.” Aku mencium pipinya. Sedikit tenang mendengar komitmennya.
“Juga tadi. Saat di sebelah ada ribut-ribut. Aku iri lagi. Enak banget Kang Didot dan Sarita.”
“Jadi aku ketempuhan nih?”
“Tapi senang khan?”
“Iya.”
Ilen mendekatkan mulutnya ke telingaku, berbisik. Dia ingin menghabiskan sisa malam ini dalam rengkuhanku. Aku hanya tersenyum jahil dan menjitak kepalanya.
“Adikku ini.”
Kami berdua pun ketawa.

Kami lalu keluar dari kamar mandi. Dan make love lagi. Dan sekali lagi. Subuh, setelah bangun tidur, kami mengulang kembali. Sedang seru-serunya tempat tidur kami goyang. 6110-ku di meja telepon berdering.
“Mmf. Biarin saja, Lang!”
Tapi itu nada khas yang kusetel untuk dua orang saja. Venus dan Srida. Kuraih teleponku. Srida!
Kuletakkan jari manisku (yang bau ‘itu’-nya Ilen) ke depan bibir. Meminta Ilen diam. Ilen mengerti. Kepalanya menuju pahaku. Lalu mulutnya mengulum kejantananku. Tak puas-puas kiranya dia.
“Ya, Srida.”
“Aku jemput Selasa nanti.”
Dan telepon pun dimatikan.
Aku hanya sempat bengong, geleng-geleng kepala. Ilen mengalihkan perhatiannya.
“Srida?”
Aku hanya mengangguk. Menariknya dalam pelukan.
“Sampai dimana kita tadi?”
Kami pun kembali mendaki, menuju puncak kenikmatan.

Pukul sepuluh pagi selepas mengantarkan Ilen pulang ke rumahnya, aku menelepon Srida di kantornya. Yang mengangkat Novi, rekannya satu divisi.
“Hai, Nov.”
“Hai! Gila, si Non kenapa tuh? Dari tadi pagi murem saja.”
“Emang iya?”
“He eh. Ngakunya sih keponakannya tambah parah. Tapi aku yakin, ada sesuatu yang lain. Sebab malam Minggu itu dia telepon aku. Tahu nggak jam berapa? Setengah dua pagi! Gila. dia girang banget. Cerita kamu dan dia jadian. Emang benar? But, tadi pagi ketika kutanya soal kamu, dia cuma memberengut. Ada apa Lang?”
“Panjang deh ceritanya. Ntar kuceritain. Sekarang mana nona itu?”
“Sebentar, dia di mejaku, sedang download data. Dimana nih?”
“Di Bandung.”
“Aku sambungin ya.”
Terdengar jingle iklan bank tempatnya bekerja, lalu telepon yang diangkat. “Hallo. ******** ******* (nama bank). Dengan Srida, bisa dibantu?”
“Hai. Ini aku, Elang. Apa kabar?”
“Baik.” Jawabnya malas,
“Ada apa?”
“Mau bicara denganmu saja.”
“Nanti saja. Aku pasti jemput kamu besok. Kereta jam berapa?”
“Jam tiga.”
“Oke. Aku tunggu kamu pukul 6 di Gambir. Sekarang aku harus bekerja.” Katanya tegas.
“Nanti malam kutelepon ke Bintaro.”
“Nggak perlu. Aku menginap di rumah Ria di Sahardjo.”
Lalu tanpa ba bi Bu lagi dia menutup teleponnya. Sikapnya yang biasa, yang spontan. Aku hanya dapat menggaruk kepala yang tidak gatal. Tapi aku tahu dia berbohong saat menyatakan akan menginap di rumah temannya. Hari itu kuhabiskan dengan berenang di Cipaku. Lalu malamnya menikmati/rif yang manggung di Fame.

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s